Logo Bloomberg Technoz

Rupiah dan Mata Uang Asia Melemah, Kecuali Yuan

Redaksi
11 May 2026 09:16

Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)
Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan pasar spot pada Senin (11/5/2026), melanjutan pelemahan pekan lalu. 

Rupiah dibuka menyusut tipis 0,06% ke posisi Rp17.383/US$. Pernyataan antara AS dan Iran yang saling tidak menyepakati proposal perdamaian kembali menciptakan ketidakpastian geopolitik dan menekan pergerakan harga minyak. 

Harga minyak Brent masih bertahan di level US$104 per barel dan membawa mata uang kawasan melemah. Won Korea Selatan, peso Filipina, baht Thailand, yen Jepang, ringgit Malaysia, dolar Singapura, dan rupiah ikut melemah. 

Pergerakan mata uang kawasan pada Senin pagi (11/5/2026). (Bloomberg)

Sementara, dolar Taiwan, yuan China masih dapat bertahan defensif meski laju penguatannya terbatas. 

Di tengah tekanan eksternal akibat perang, pergerakan yuan China justru menjadi perhatian penting pasar global. Goldman Sachs dalam laporan terbarunya menilai yuan saat ini masih lebih dari 20% undervalued terhadap dolar AS dan berpotensi terus menguat dalam satu tahun ke depan.