Logo Bloomberg Technoz

Meski begitu, masih ada beberapa tenor yang mencatat penurunan yield, seperti tenor 1 tahun yang turun 0,7 basis poin ke 6,258%, tenor 11 tahun turun 0,3 basis poin menjadi 6,720%, serta tenor 16 tahun dan 18 tahun yang masing-masing melemah 1 basis poin dan 0,7 basis poin.

Di tengah kondisi fiskal yang sempit dan defisit yang mencapai Rp240 triliun pada kuartal I-2026, rencana pemerintah menggali sumber-sumber pendapatan makin terjepit. Rencana memberlakukan kenaikan tarif royalti sejumlah komoditas utama seperti tembaga, emas, dan timah sebagai upaya memanfaatkan lonjakan harga global sekaligus meningkatkan penerimaan negara, sepertinya pupus. 

Siang tadi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan penundaan rencana tersebut. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan keputusan menunda kenaikan royalti dilakukan usai mendengar tanggapan dari pelaku usaha, tetapi dia belum dapat mengungkapkan hingga kapan rencana kenaikan tarif royalti mineral ditunda. 

Di tengah kondisi penuh ketidakpastian ini, pergerakan aset berdenominasi rupiah semakin terjepit. 

Penundaan kenaikan royalti mineral sejatinya menunjukkan dilema besar pemerintah saat ini. Di satu sisi, negara membutuhkan tambahan penerimaan untuk menjaga kesehatan APBN yang mulai terbebani pelebaran defisit dan kenaikan belanja. Namun di sisi lain, pemerintah juga harus menjaga iklim investasi di tengah momentum pertumbuhan yang mulai kehilangan tenaga.

Saat ini, ruang untuk menaikkan penerimaan pajak dan non-pajak sepertinya semakin terbatas. Sehingga, pergerakan rupiah dan pasar saham hari ini merupakan cerminan dari kekhawatiran investor, yang sepertinya mulai mempertanyakan dari mana sumber pembiayaan defisit akan diperoleh tanpa meningkatkan tekanan terhadap surat utang negara. 

Apalagi di tengah kebutuhan pembiayaan pemerintah tahun ini tetap besar dengan program-program prioritas yang sepertinya tidak berencana dipangkas. 

(dsp)

No more pages