Logo Bloomberg Technoz

Perang Iran Untungkan Big Oil, Transisi Energi Bersih Terjegal

Redaksi
11 May 2026 13:10

Penerapan perusahaan teknologi untuk menghasilkan energi bersih dan dukung iklim hijau, termasuk pembangunan proyek panel surya. (Bloomberg)
Penerapan perusahaan teknologi untuk menghasilkan energi bersih dan dukung iklim hijau, termasuk pembangunan proyek panel surya. (Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Para ahli dan aktivis lingkungan khawatir bahwa keuntungan miliaran dolar yang diraup raksasa minyak akibat perang di Iran akan menghambat transisi energi. Pasalnya, hal tersebut mendorong ekspansi industri minyak dan gas serta meningkatkan dana sektor tersebut untuk lobi politik.

“Keuntungan besar [windfall] dari perang Trump akan memungkinkan raksasa minyak membangun tembok uang di sekitar kemenangan politik era Trump,” kata Lukas Shankar-Ross, wakil direktur kelompok lingkungan Friends of the Earth, dilansir dari The Guardian, Senin (11/5/2026).

Sebagaimana diketahui, konflik di Iran telah menciptakan guncangan energi bersejarah akibat serangan terhadap fasilitas bahan bakar fosil dan pemblokiran rute perdagangan Selat Hormuz yang krusial. Di tengah kekacauan tersebut, harga energi —dan pendapatan perusahaan minyak—melonjak.


Pekan lalu ConocoPhillips melaporkan laba sebesar US$2,3 miliar pada kuartal I-2026, naik 84% dari sebelum perang dimulai. Sementara itu, perusahaan penyulingan minyak Valero Energy mengumumkan laba kuartalan sebesar US$1,2 miliar, melampaui perkiraan.

Liberty Energy, yang didirikan dan pernah dipimpin oleh Menteri Energi Donald Trump, Chris Wright, mencatat laba kuartalan sebesar US$10 juta, melejit 32% dibandingkan sebelum perang dimulai.