Data IKK April memperlihatkan kepercayaan terhadap ekonomi memang masih terjaga, tetapi terkonsentrasi di kelompok pendapatan lebih tinggi. Sementara kelompok pengeluaran Rp1 juta hingga Rp4 juta mulai menunjukkan kelelahan daya beli dan kehati-hatian yang makin tinggi.
Hal ini terlihat jelas dari ekspektasi penghasilan enam bulan ke depan (IEP). Pada kelompok pengeluaran Rp1-2 juta, IEP turun menjadi 129,2 pada April, dari posisi sebelumnya 131,1 pada Maret.
Kelompok Rp2,1-Rp3 juta juga turun dari 135,2 menjadi 132,8. Sementara kelompok Rp3,1-Rp4 juta relatif stagnan di kisaran 134. Sebaliknya, optimisme justri meningkat pada kelompok Rp4,1-Rp5 juta dan di atas Rp5 juta.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi mulai terasa lebih berat di lapisan bawah dan menengah bawah. Sedangkan kelompok yang lebih mapan masih memiliki bantalan keuangan yang cukup kuat.
Di sektor riil, kondisi ini umumnya terjadi jika biaya hidup meningkat lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan masyarakat.
Rumah tangga memang masih menghasilkan pemasukan, tetapi nilainya belum mampu meningkatkan konsumsi di tengah kenaikan harga akibat harga minyak mentah dunia yang melambung. Akibatnya, masyarakat mulai selektif dalam berbelanja.
Sinyal pesimisme lainnya juga datang dari ekspektasi kegiatan usaha. Pada April, kelompok pengeluaran Rp1-2 juta hanya mencatat indeks 112, turun dibanding Februari dan Maret.
Kelompok Rp2,1-3 juta juga mengalami volatilitas tinggi, pada Februari tinggi, lalu merosot di bulan Maret, dan April naik kembali menjadi 119,0. Sementara kelompok Rp3,1-4 juta turun cukup tajam dari 125 menjadi 118,4.
Kondisi ini menggambarkan pelaku usaha kecil dan sektor konsumsi mass market, yang umumnya berupa barang kebutuhan pokok atau konsumsi umum yang biasa disebut Fast Moving Consumer Goods (FMCG), mulai menghadapi tekanan permintaan.
Bagi sektor riil, kelompok pengeluaran di bawah Rp5 juta merupakan mesin utama perputaran ekonomi harian. Mereka umumnya adalah konsumen pasar tradisional, minimarket, warung makan, pengguna transportasi harian, hingga pelanggan e-commerce berharga murah.
Ketika kelompok ini mulai menahan konsumsi, dampaknya langsung terasa di lapangan: omzet menurun, perputaran barang cenderung rendah, dan pelaku usaha jadi lebih hati-hati dalam berekspansi.
Konsumen Menabung Lebih Banyak
Di sisi lain, data IKK juga menggambarkan adanya perubahan perilaku konsumsi. Rumah tangga terlihat mulai lebih hati-hati dengan meningkatnya rasio tabungan menjadi 18,2% dari sebelumnya 17,6%.
Sementara itu, rasio cicilan turun dari 10,2% menjadi 9,7%. Adapun rasio konsumsi terhadap pendapatan relatif stagnan di kisaran 72%.
Di saat kelompok rumah tangga mulai memilih menabung lebih banyak daripada belanja dan mengurangi cicilan, artinya ada penurunan konsumsi atau pegeluaran yang bersifat diskresioner dan lebih berhati-hati terhadap pengeluaran.
Perubahan perilaku konsumen ini menandakan bahwa masyarakat cenderung mempersiapkan cadangan dana darurat untuk menghadapi ketidakpastian yang sedang terjadi.
Kondisi seperti ini biasanya muncul ketika masyarakat mulai merasakan tekanan biaya hidup, ketidakpastian pekerjaan, atau kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi.
Sinyal paling jelas terlihat pada kelompok usia produktif 31–40 tahun. Kelompok ini merupakan tulang punggung konsumsi rumah tangga, pengguna kredit terbesar, dan motor utama sektor properti serta ritel.
Namun indeks ekspektasi penghasilan mereka turun dari 140,6 menjadi 138,2, selaras dengan ekspektasi lapangan kerja turun dari 129,7 menjadi 125,0.
Artinya, bahkan pada kelompok paling produktif sekalipun, mulai merasa ekonomi tidak seaman beberapa bulan sebelumnya. Sepertinya, inilah gambaran ekonomi Indonesia sekarang: pertumbuhan masih ada, tetapi kualitasnya mulai turun.
Sektor Riil Kehilangan Tenaga
Ekonomi saat ini memang belum masuk ke fase krisis. Apalagi dengan capaian pertumbuhan yang sangat impresif di angka 5,61% dan menjadi yang tertinggi di kawasan.
Namun, data IKK April mengindikasikan bahwa sektor riil mulai kehilangan tenaga dari kelompok konsumsi massal. Konsumsi memang masih ada, tapi data menggambarkan bahwa kelompok menengah atas masih menopang konsumsi itu.
Sedangkan, kelompok pengeluaran di bawah Rp5 juta mulai menunjukkan tanda-tanda tekanan daya beli, kehati-hatian finansial, dan menggambarkan optimisme yang mulai retak.
Gejala yang terjadi di lapangan sudah terasa dari data capaian PMI Indeks Manufaktur Indonesia versi S&P Global yang berada di level kontraksi 49,1. Hal ini juga selaras dengan kondisi perputaran usaha yang melambat, konsumen yang lebih selektif, serta sektor riil yang menahan laju ekspansinya.
(dsp/aji)





























