Harga minyak yang tetap tinggi juga meningkatkan permintaan biofuel. Indeks minyak nabati PBB melonjak 5,9% dibanding Maret dan mencapai level tertinggi sejak Juli 2022.
Indeks tersebut memantau biaya komoditas mentah, bukan harga ritel, sehingga dampak kenaikan di tingkat produsen masih memerlukan waktu sebelum dirasakan konsumen. Meski demikian, kenaikan dibanding Maret menjadi sinyal awal bahwa inflasi pangan berpotensi kembali meningkat, di tengah pertimbangan Iran terhadap proposal Amerika Serikat untuk mengakhiri perang yang dimulai pada akhir Februari.
“Jika konflik ini berlanjut hingga hari ke-90, potensi terjadinya krisis pangan akan jauh lebih tinggi pada akhir 2026 dan sepanjang 2027,” ujar Torero.
Kenaikan indeks yang melacak harga biji-bijian, gula, daging, produk susu, dan minyak nabati itu menandai penguatan selama tiga bulan berturut-turut.
Indeks harga daging naik 1,2% ke rekor tertinggi, sementara indeks harga serealia bertambah 0,8% akibat kekhawatiran cuaca dan ekspektasi penurunan penanaman gandum pada 2026, seiring petani mempertimbangkan penanaman tanaman yang membutuhkan pupuk lebih sedikit.
(bbn)































