Kelas Menengah Makin Berat Beli Properti
Redaksi
08 May 2026 13:22

Bloomberg Technoz, Jakarta - Sektor properti Indonesia sedang mengalami perlambatan. Memang saat ini kondisinya belum sampai pada fase krisis, tetapi sejumlah indikator menunjukkan bahwa pasar perumahan nasional mulai kehilangan momentum pertumbuhan.
Sektor properti sering dianggap sebagai salah satu penyangga penting pertumbuhan ekonomi domestik. Perubahan yang terjadi di pasar properti tak cuma memengaruhi industri konstruksi, tetapi juga sektor perbankan, bahan bangunan, dan industri furnitur yang padat karya. Ketika sektor properti mulai melambat, dampaknya bisa menjalar luar ke berbagai sektor ekonomi lainnya.
Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia menunjukkan harga properti menunjukkan pelemahan pada kuartal I-2026. Terlihat dari pertumbuhan harga rumah residensial yang makin terbatas.
Bank Indonesia mencatat Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) para kuartal I-2026 hanya tumbuh 0,62% secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih rendah dari triwulan sebelumnya sebesar 0,83%. Secara kuartalan, pertumbuhan harga bahkan hanya mencapai 0,04%.
Hal ini mengindikasikan bahwa harga rumah memang masih naik, tetapi nyaris stagnan. Di pasar properti, perlambatan harga seperti ini bisa menandakan adanya kesulitan dari pengembang dalam menaikkan harga lantaran permintaan melemah. Sepertinya, pasar tak lagi cukup kuat untuk menyerap kenaikan harga secara agresif.





























