Berikut daftar penyakit dengan pembiayaan terbesar yang ditanggung BPJS Kesehatan sepanjang tahun 2025:
1. Penyakit Jantung
-
Jumlah kasus: 22.550.047 kasus
-
Total pengeluaran: Rp19,25 triliun
Penyakit jantung menjadi penyakit dengan biaya penanganan terbesar. Salah satu tindakan medis yang paling mahal adalah pemasangan ring jantung yang biayanya dapat mencapai ratusan juta rupiah.
2. Penyakit Kanker
-
Jumlah kasus: 4.240.719 kasus
-
Total pengeluaran: Rp6,49 triliun
Pasien kanker umumnya membutuhkan kemoterapi rutin, operasi, hingga obat-obatan khusus dengan harga sangat mahal.
3. Stroke
-
Jumlah kasus: 3.899.305 kasus
-
Total pengeluaran: Rp5,82 triliun
Stroke memerlukan rawat inap intensif, rehabilitasi medis, serta pengobatan jangka panjang yang biayanya tidak sedikit.
4. Gagal Ginjal
-
Jumlah kasus: 1.448.406 kasus
-
Total pengeluaran: Rp2,76 triliun
Pasien gagal ginjal harus menjalani cuci darah rutin. Dalam sebulan, pasien bisa menjalani tindakan hemodialisa hingga delapan kali.
5. Haemophilia
-
Jumlah kasus: 131.639 kasus
-
Total pengeluaran: Rp1,11 triliun
Penyakit ini membutuhkan faktor koagulasi khusus dengan harga sangat tinggi.
6. Thalassaemia
-
Jumlah kasus: 353.226 kasus
-
Total pengeluaran: Rp794,46 miliar
Pasien thalassaemia memerlukan transfusi darah berkala sepanjang hidupnya.
7. Leukemia
-
Jumlah kasus: 168.351 kasus
-
Total pengeluaran: Rp599,91 miliar
Biaya pengobatan leukemia mencakup kemoterapi, operasi, serta obat-obatan khusus.
8. Sirosis Hepatis
-
Jumlah kasus: 248.373 kasus
-
Total pengeluaran: Rp463,52 miliar
Penyakit hati kronis ini memerlukan penanganan medis berkelanjutan dan rawat inap berkala.
Perbandingan Biaya Mandiri dan BPJS Kesehatan
Banyak masyarakat belum memahami betapa besarnya biaya pengobatan jika seluruh biaya harus ditanggung sendiri tanpa bantuan BPJS Kesehatan.
Berikut simulasi perbandingan biaya pasien mandiri dengan peserta BPJS Kesehatan:
Jantung
-
Biaya mandiri: Rp80 juta sampai Rp150 juta
-
Peserta BPJS: Rp0 sesuai plafon INA-CBG
Kanker
-
Biaya mandiri: Rp5 juta sampai Rp15 juta
-
Peserta BPJS: Rp0 sesuai Formularium Nasional
Stroke
-
Biaya mandiri: Rp20 juta sampai Rp50 juta
-
Peserta BPJS: Rp0 sampai 10 persen tergantung kelas dan alat kesehatan
Gagal Ginjal
-
Biaya mandiri: Rp1 juta sampai Rp1,5 juta per sesi
-
Peserta BPJS: Rp0 sesuai prosedur standar
Haemophilia
-
Biaya mandiri: Rp10 juta sampai Rp20 juta
-
Peserta BPJS: Rp0 sesuai standar terapi
Thalassaemia
-
Biaya mandiri: Rp3 juta sampai Rp5 juta
-
Peserta BPJS: Rp0 sesuai kebutuhan medis
Leukemia
-
Biaya mandiri: Rp15 juta sampai Rp100 juta
-
Peserta BPJS: Rp0 sampai 10 persen bila ada selisih biaya
Sirosis Hepatis
-
Biaya mandiri: Rp10 juta sampai Rp30 juta
-
Peserta BPJS: Rp0 sesuai kelas perawatan
Data tersebut memperlihatkan betapa besar manfaat BPJS Kesehatan dalam membantu masyarakat menghadapi biaya pengobatan mahal.
Risiko Finansial pada Kelompok Lansia
Kelompok lansia menjadi kelompok paling rentan terhadap penyakit kronis. Saat ini jumlah lansia di Indonesia mencapai sekitar 28 juta jiwa.
Semakin bertambah usia seseorang, risiko terkena penyakit seperti jantung, gagal ginjal, hingga stroke juga meningkat. Kondisi ini membuat kebutuhan biaya kesehatan menjadi jauh lebih besar dibanding kelompok usia muda.
Sebagai contoh, pasien gagal ginjal membutuhkan cuci darah rutin dengan biaya sekitar Rp1 juta sampai Rp1,5 juta setiap sesi. Jika dilakukan delapan kali dalam sebulan, maka total pengeluaran dapat mencapai belasan juta rupiah.
Tanpa BPJS Kesehatan, beban biaya tersebut tentu sangat berat bagi sebagian besar masyarakat Indonesia.
Penyebab Biaya BPJS Tidak Selalu Rp0
Meskipun BPJS Kesehatan memberikan perlindungan besar, masih ada beberapa kondisi yang membuat pasien harus membayar selisih biaya tertentu.
Hal tersebut diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2023 dan Peraturan BPJS Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023.
Berikut beberapa penyebab biaya tidak sepenuhnya ditanggung:
1. Naik Kelas Perawatan
Peserta yang memilih kelas rawat inap lebih tinggi dari haknya wajib membayar selisih tarif rumah sakit.
2. Penggunaan Alat Kesehatan Tertentu
Jika pasien meminta alat kesehatan dengan spesifikasi atau merek tertentu di luar standar paket BPJS, maka selisih harga menjadi tanggungan pasien.
3. Obat di Luar Formularium Nasional
BPJS hanya menanggung obat yang masuk daftar Formularium Nasional atau Fornas.
Jika pasien menggunakan obat di luar daftar tersebut tanpa indikasi khusus, maka biaya tambahan menjadi tanggungan pribadi.
4. Layanan Non-Medis
Fasilitas tambahan seperti kamar premium, permintaan ambulans tertentu, atau layanan administrasi tambahan tidak masuk dalam penjaminan BPJS.
Cara Agar Pengobatan Tetap Ditanggung BPJS
Agar peserta dapat memperoleh manfaat maksimal dari BPJS Kesehatan, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan.
1. Gunakan Jalur Rujukan Berjenjang
Peserta wajib memulai pemeriksaan dari FKTP seperti puskesmas atau klinik sebelum dirujuk ke rumah sakit.
2. Patuhi Hak Kelas Perawatan
Tetap gunakan kelas rawat inap sesuai hak kepesertaan agar tidak terkena biaya tambahan.
3. Pastikan Obat Sesuai Fornas
Mintalah dokter meresepkan obat yang masuk Formularium Nasional.
4. Pastikan Status Kepesertaan Aktif
Iuran BPJS harus dibayar tepat waktu agar kartu tetap aktif saat dibutuhkan.
Pentingnya Skrining dan Pencegahan
Kementerian Kesehatan terus mengingatkan masyarakat bahwa pencegahan tetap menjadi langkah terbaik untuk menekan risiko penyakit kronis.
Skrining kesehatan secara rutin dinilai sangat penting agar penyakit dapat dideteksi sejak dini sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
Pola hidup sehat juga menjadi faktor utama dalam mencegah munculnya penyakit kronis. Mulai dari menjaga pola makan, rutin berolahraga, tidur cukup, hingga menghindari rokok dan alkohol.
BPJS Kesehatan saat ini tidak hanya berperan sebagai penjamin biaya pengobatan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam sistem perlindungan kesehatan nasional.
Dengan meningkatnya jumlah masyarakat yang memiliki risiko penyakit kronis, keberadaan BPJS Kesehatan diperkirakan akan semakin vital di masa mendatang.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk menjaga kepesertaan tetap aktif agar perlindungan kesehatan selalu tersedia kapan pun dibutuhkan.
Bagi banyak keluarga Indonesia, BPJS Kesehatan kini bukan sekadar program jaminan kesehatan biasa, melainkan penyelamat finansial saat menghadapi penyakit berbiaya mahal yang dapat datang kapan saja tanpa diduga.
(seo)





























