Logo Bloomberg Technoz

Waspada Aritmia, Ancaman Serius Kesehatan Jantung Lansia


Ilustrasi serangan jantung (Envato)
Ilustrasi serangan jantung (Envato)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Usia lanjut menjadi fase kehidupan yang membutuhkan perhatian kesehatan lebih intensif. Seiring bertambahnya usia, risiko berbagai penyakit kronis meningkat, termasuk gangguan jantung seperti aritmia. Kondisi ini kerap luput dari perhatian karena gejalanya sering dianggap sebagai bagian alami dari proses penuaan.

Aritmia merupakan kelainan irama jantung yang menyebabkan detak menjadi terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur. Gangguan ini bukan sekadar keluhan ringan, karena dapat memicu komplikasi serius seperti stroke, gagal jantung, hingga kematian mendadak. Oleh sebab itu, deteksi dini menjadi kunci untuk mencegah dampak yang lebih berat.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan aritmia Mayapada Hospital Surabaya, dr. Rerdin Julario, menjelaskan bahwa banyak kasus aritmia pada lansia tidak terdiagnosis sejak awal. Hal ini terjadi karena gejala yang muncul sering disalahartikan sebagai keluhan biasa akibat faktor usia.

“Terdapat tanda aritmia yang perlu diwaspadai antara lain, jantung berdebar atau berdetak tidak teratur, pusing atau kepala terasa ringan, kelelahan tanpa sebab jelas, sesak napas, nyeri dada, dan pingsan mendadak,” jelas dr. Rerdin. Gejala tersebut dapat muncul sesekali atau menetap, tergantung jenis dan tingkat keparahan aritmia.

Menurut dr. Rerdin, pengenalan gejala saja tidak cukup. Pemeriksaan medis yang tepat sangat diperlukan untuk memastikan adanya gangguan irama jantung. Berbagai metode diagnostik kini tersedia untuk membantu dokter menilai kondisi jantung secara menyeluruh.

“Pemeriksaan dapat dilakukan melalui elektrokardiogram (EKG) untuk melihat irama jantung, Holter Monitor yang merekam aktivitas jantung selama 24–48 jam, serta ekokardiogram untuk menilai struktur dan fungsi jantung. Tes darah juga membantu memeriksa kadar elektrolit dan hormon tiroid, serta wearable device seperti smartwatch yang kini dapat mendeteksi pola detak jantung abnormal,” jelasnya.

Skrining rutin menjadi semakin penting bagi lansia karena adanya perubahan alami pada struktur dan fungsi jantung. Proses penuaan dapat menyebabkan penebalan dinding jantung, melambatnya sistem kelistrikan jantung, serta gangguan keseimbangan elektrolit dalam tubuh. Kondisi ini membuat lansia lebih rentan terhadap aritmia.

Deteksi Dini untuk Cegah Komplikasi Serius

Selain perubahan alami, lansia juga kerap memiliki faktor risiko tambahan yang memicu aritmia. Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan pembesaran jantung, sementara penyakit jantung koroner menghambat aliran darah ke otot jantung. Kedua kondisi ini berkontribusi besar terhadap gangguan irama jantung.

Ketidakseimbangan elektrolit seperti kalium, magnesium, atau natrium juga sering ditemukan pada usia lanjut. Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah penggunaan obat-obatan tertentu. Beberapa obat tekanan darah, antidepresan, hingga obat flu dapat memengaruhi irama jantung jika tidak digunakan secara tepat.

“Selain itu, lansia juga memiliki faktor risiko yang memicu aritmia, seperti tekanan darah tinggi (hipertensi) menyebabkan pembesaran jantung, penyakit jantung koroner yang menghambat aliran darah, ketidakseimbangan elektrolit seperti kalium, magnesium, atau natrium, serta penggunaan obat tertentu seperti obat tekanan darah, antidepresan, dan obat flu. Karena itu, skrining sangat penting untuk mencegah komplikasi, menyesuaikan terapi, meningkatkan kualitas hidup, dan menekan biaya pengobatan di masa depan,” tegas dr. Rerdin.

Kabar baiknya, aritmia dapat dicegah dan dikendalikan melalui langkah-langkah sederhana. Dr. Rerdin menekankan pentingnya menjaga pola hidup sehat sebagai bagian dari upaya pencegahan. Pemeriksaan jantung secara rutin menjadi langkah awal yang tidak boleh diabaikan.

“Lakukan pemeriksaan jantung rutin, konsumsi makanan bergizi seimbang, batasi kafein, alkohol, dan rokok, berolahraga ringan secara teratur, serta mengelola stres melalui meditasi atau aktivitas santai. Penting juga untuk minum obat sesuai anjuran dokter dan tidak menghentikannya tanpa konsultasi,” tutupnya.

Sebagai bentuk komitmen terhadap kesehatan jantung masyarakat, Mayapada Hospital Surabaya melalui Heart and Vascular Center menghadirkan layanan komprehensif dari pencegahan hingga rehabilitasi aritmia. Pendekatan yang diterapkan bersifat kolaboratif dan terintegrasi melalui tiga pilar utama layanan.

Pilar Advanced Treatment mencakup layanan pembuluh darah, penanganan gangguan irama jantung, serta kelainan struktur jantung seperti penyakit katup. Seluruh layanan didukung pendekatan medis terkini dan teknologi modern untuk memastikan hasil perawatan optimal.

Emergency Excellence menjadi pilar berikutnya dengan layanan kegawatdaruratan jantung terpadu. Cardiac Emergency didukung dokter spesialis yang siaga 24 jam dan dapat diakses melalui call center 150990 atau Emergency Call di MyCare. Tersedia pula Chest Pain Unit untuk deteksi nyeri dada secara cepat dan akurat.

Pilar Team Based Management memastikan setiap keputusan klinis ditetapkan melalui kolaborasi aktif dalam Cardiac Board. Tim ini melibatkan berbagai disiplin, mulai dari spesialis jantung, bedah toraks kardiovaskular, anestesi kardiovaskular, hingga spesialis jantung anak.

Pendekatan multidisiplin tersebut membantu menentukan tindakan medis yang paling tepat. Mulai dari Coronary Angiography, Percutaneous Coronary Intervention termasuk Complex PCI, hingga penanganan gangguan katup, vaskular, dan irama jantung dapat dilakukan secara terkoordinasi.

Untuk kasus gagal jantung lanjut, tersedia dukungan alat bantu pompa jantung Left Ventricular Assist Device. Seluruh proses perawatan didampingi Cardiac Advisor yang membantu pasien dan keluarga memahami setiap tahapan medis sejak diagnosis hingga pemulihan.

Informasi lengkap mengenai layanan jantung di seluruh unit Mayapada Hospital juga dapat diakses melalui fitur Health Articles and Tips di aplikasi MyCare. Fitur Personal Health yang terhubung dengan Google Fit dan Health Access memungkinkan pemantauan detak jantung, kalori, langkah, serta Body Mass Index secara mandiri.

Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya deteksi dini, lansia diharapkan dapat menjaga kualitas hidup yang lebih baik. Aritmia bukan kondisi yang harus diterima sebagai bagian dari penuaan, melainkan risiko yang dapat dikelola dengan pemeriksaan rutin, gaya hidup sehat, dan penanganan medis yang tepat.