Logo Bloomberg Technoz

Jantung Berdebar Tak Teratur, Risiko Stroke Meningkat


Ilustrasi serangan jantung (Envato)
Ilustrasi serangan jantung (Envato)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Banyak orang masih mengaitkan stroke semata dengan kolesterol tinggi atau hipertensi. Padahal, ada faktor lain yang kerap luput dari perhatian, yakni gangguan irama jantung atau aritmia. Salah satu bentuk aritmia yang paling sering terjadi adalah fibrilasi atrium, kondisi yang dapat memicu stroke secara tiba-tiba bila tidak ditangani dengan tepat.

Fibrilasi atrium terjadi ketika ruang atas jantung atau atrium berdetak sangat cepat dan tidak teratur. Pada kondisi normal, denyut jantung dikendalikan oleh satu pusat listrik alami bernama nodus sinoatrial atau SA. Sistem ini menjaga irama tetap stabil dan terkoordinasi.

Namun pada fibrilasi atrium, impuls listrik muncul dari berbagai titik di atrium. Akibatnya, denyut jantung menjadi kacau dan tidak sinkron. Kondisi ini membuat aliran darah di dalam jantung tidak mengalir optimal.

Darah yang tidak mengalir sempurna berpotensi tertahan di bagian kecil atrium kiri yang disebut Left Atrial Appendage atau LAA. Dari sinilah risiko serius bermula. Darah yang mengendap dapat membentuk gumpalan dan sewaktu-waktu terlepas menuju otak.

Jika gumpalan tersebut menyumbat pembuluh darah otak, terjadilah stroke iskemik kardioembolik. Jenis stroke ini dipicu oleh bekuan darah yang berasal dari jantung. Dampaknya bisa sangat fatal, terutama bila tidak segera mendapatkan penanganan medis.

Menurut dr. Rerdin Julario, Sp.JP(K) dari Mayapada Hospital Surabaya, fibrilasi atrium lebih sering dialami kelompok usia lanjut. Faktor usia menjadi salah satu risiko utama yang tidak bisa dihindari.

“Fibrilasi atrium lebih sering ditemukan pada kelompok usia lanjut, terutama di atas 65 tahun. Risikonya juga meningkat pada individu dengan riwayat penyakit jantung, hipertensi, diabetes, obesitas, serta kebiasaan konsumsi alkohol atau kafein berlebihan. Karena itu, penderita fibrilasi atrium memiliki risiko stroke sekitar lima kali lebih tinggi dibandingkan orang dengan irama jantung normal.”

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa fibrilasi atrium bukan gangguan ringan. Risiko stroke meningkat signifikan pada penderita kondisi ini. Karena itu, deteksi dini menjadi kunci untuk mencegah komplikasi yang lebih berat.

Gejala fibrilasi atrium sering kali tidak disadari. Beberapa pasien merasakan detak jantung tidak teratur, mudah lelah, sesak napas, atau sensasi melayang. Keluhan ini kerap dianggap sepele hingga akhirnya muncul komplikasi.

dr. Rerdin menekankan pentingnya pemeriksaan jantung ketika gejala tersebut muncul. Diagnosis dapat ditegakkan melalui pemeriksaan elektrokardiogram atau EKG. Pemeriksaan ini membantu mendeteksi gangguan irama secara akurat.

“Pemeriksaan jantung dianjurkan ketika muncul keluhan seperti detak tidak teratur, mudah lelah, sesak napas, atau rasa melayang. Penanganan umumnya menggunakan obat antikoagulan, seperti warfarin, untuk mencegah pembentukan bekuan darah. Pada pasien dengan risiko perdarahan tinggi atau yang tidak memungkinkan terapi obat jangka panjang, tindakan Left Atrial Appendage (LAA) Closure dapat menjadi alternatif pencegahan stroke,” ujar dr. Rerdin.

Penggunaan obat antikoagulan bertujuan mencegah pembentukan bekuan darah. Namun terapi ini perlu pengawasan ketat karena berisiko menimbulkan perdarahan pada sebagian pasien. Oleh sebab itu, pilihan terapi harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.

Selain pengobatan medis, pengendalian faktor risiko menjadi bagian penting dalam pencegahan. Olahraga teratur, menjaga berat badan ideal, serta membatasi konsumsi alkohol dan kafein dapat membantu menurunkan risiko. Pengelolaan stres juga berperan dalam menjaga stabilitas irama jantung.

Pemantauan tekanan darah secara rutin menjadi langkah preventif yang sederhana namun efektif. Pemeriksaan jantung berkala dengan EKG juga disarankan bagi mereka yang memiliki faktor risiko. Langkah ini membantu mendeteksi gangguan sebelum berkembang menjadi komplikasi berat.

Layanan Terpadu untuk Kesehatan Jantung

Melihat kompleksitas penanganan fibrilasi atrium, Mayapada Hospital Surabaya menghadirkan Heart & Vascular Center sebagai pusat layanan jantung terpadu. Layanan ini dirancang untuk memberikan pendekatan komprehensif mulai dari pencegahan hingga rehabilitasi.

Heart & Vascular Center dibangun di atas tiga pilar utama. Pilar pertama adalah Advanced Treatment yang berfokus pada penanganan gangguan vaskular, aritmia, dan kelainan struktur jantung seperti penyakit katup. Tindakan yang tersedia meliputi Coronary Angiography, Complex PCI, hingga dukungan alat bantu pompa jantung Left Ventricular Assist Device atau LVAD.

Pilar kedua adalah Emergency Excellence. Fasilitas ini menyediakan layanan kegawatdaruratan jantung selama 24 jam sesuai standar protokol internasional. Tersedia Cardiac Emergency 24 jam dengan dokter spesialis dan subspesialis yang siaga di lokasi.

Layanan darurat dapat diakses melalui call center 150990 atau tombol Emergency Call di aplikasi MyCare. Selain itu, tersedia Chest Pain Unit untuk mendeteksi dini keluhan nyeri dada yang berpotensi berkaitan dengan gangguan jantung.

Pilar ketiga adalah Team Based Management. Setiap keputusan klinis dibahas secara kolaboratif melalui Cardiac Board. Tim ini melibatkan spesialis jantung, bedah toraks dan kardiovaskular, anestesi kardiovaskular, hingga spesialis jantung anak.

Pendekatan multidisiplin memastikan pasien mendapatkan terapi yang paling sesuai. Tindakan yang tersedia mencakup Coronary Angiography, Percutaneous Coronary Intervention termasuk Complex PCI, penanganan kelainan katup dan vaskular, gangguan irama, hingga terapi gagal jantung lanjut dengan LVAD.

Layanan ini juga dilengkapi Cardiac Advisor. Peran ini membantu mendampingi pasien dan keluarga sejak proses diagnosis hingga pemulihan. Dengan pendampingan tersebut, setiap keputusan medis dapat dipahami secara menyeluruh.

Heart & Vascular Center mulai beroperasi pada Februari 2026 di Lantai 8 Mayapada Hospital Surabaya. Kehadiran fasilitas ini diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini dan penanganan gangguan irama jantung.

Informasi seputar kesehatan jantung juga dapat diakses melalui aplikasi MyCare pada fitur Health Articles & Tips. Masyarakat dapat memanfaatkan fitur Personal Health untuk memantau detak jantung, langkah kaki, kalori terbakar, serta Body Mass Index.

Dengan pemahaman yang lebih baik tentang fibrilasi atrium, risiko stroke dapat ditekan. Kesadaran, pemeriksaan rutin, serta penanganan komprehensif menjadi fondasi utama menjaga kesehatan jantung dan mencegah komplikasi yang mengancam jiwa.