Sehingga, saat ini China tercatat telah menguasai 90,9% light rare earth, dan 98,9% heavy rare earth.
Hal yang membuat posisi China semakin sulit digoyang adalah skala permintaan domestiknya sendiri. Setidaknya, lebih dari 70% produksi rare earth China diserap pasar dalam negeri untuk menopang industri semikonduktor, kendaraan listrik, energi hijau, petrokimia, hingga baja.
Artinya, China tidak hanya menguasai bahan baku, tetapi juga rantai nilai tambahnya. "Permintaan domestik yang besar memungkinkan China membangun rantai pasok yang efisien untuk material yang di negara lain mungkin hanya menjadi pasar niche," sebut Megan O'Neil, Analis Geoekonomi Bloomberg Economics, dalam catatannya, Jumat (8/5/2026).
Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi Amerika Serikat (AS) dan sekutunya yang kini berupaya mengurangi ketergantungan terhadap China.
Meski negara-negara Barat mulai membangun fasilitas pemrosesan rare earth alternatif di AS, Malaysia, India, hingga Estonia, kapasitas tersebut masih jauh tertinggal, terutama untuk kategori heavy rare earth yang hampir sepenuhnya dikuasai China.
Grafik memperlihatkan bahwa alternatif industri rare earth di luar China sangat rendah. Kapasitas pemrosesan non-China terlihat tipis pada hampir seluruh jenis rare earth, baik Cerium (Ce), Lanthanum (La), Praseodymium-Neodymium (PrNd), hingga Dysprosium (Dy), dan Terbium (Tb).
Kondisi ini menegaskan mengapa negara-negara Barat sangat sulit melepaskan ketergantungannya terhadap China dalam industri teknologi strategis.
Sebagai catatan, rare earth merupakan komponen penting untuk berbagai produk bernilai tinggi seperti: kendaraan listrik, baterai, turbin angin, semikonduktor, smartphone, hingga industri yang terkait dengan pertahanan. Bahkan, heavy rare earth seperti Dysprosium dan Terbium menjadi material penting dalam produksi magnet permanen berkinerja tinggi yang digunakan pada kendaraan listri dan sistem militer modern.
Dalam konteks geoekonomi, penguasaan rantai pasok rare earth ini membuat China memiliki instrumen strategis yang mirip dengan pengaruh negara-negara produsen minyak pada era oil boom sebelumnya. Ketika tensi geopolitik meningkat, kontrol terhadap mineral kritis dapat jadi alat tekanan ekonomi maupun diplomasi perdagangan.
(dsp/aji)






























