Saham–saham barang baku, saham energi, dan saham properti menjadi pemberat IHSG hingga amblas di zona merah, dengan turun mencapai 0,68%, 0,16%, dan 0,02%.
Saham barang baku yang menjadi pemberat IHSG sepanjang perdagangan hari ini adalah saham PT Yanaprima Hastapersada Tbk (YPAS) drop 9,81%. Selain itu pelemahan juga terjadi pada saham PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) ambas 7,87% point–to–point.
Senada saham energi turut menjadi pemberat, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) jatuh 9,71%, saham PT Capitol Nusantara Indonesia Tbk (CANI) melemah 9,71%. Saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) drop 1,45%.
Turut senasib dengan saham–saham LQ45 yang juga tercatat melemah harganya, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) terjun bebas 9,62%, saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) terpeleset 3,43%, dan saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) tertekan 3,42%.
Senada, tren negatif juga terjadi pada saham LQ45 berikut, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mencatat pelemahan 3,11%, saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) melemah 2,44%. Juga saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) drop 1,94%.
Adapun Bursa Saham Asia masih melaju bervariasi pada hari ini. Indeks Ho Chi Minh Stock (Vietnam) melejit 1,31%, Shenzhen Comp. China terbang 1%, CSI 300 China terapresiasi 0,66%, KOSPI Korea melesat 0,46%, dan NIKKEI 225 Jepang menguat 0,4%.
Sementara itu, indeks HANG SENG Hong Kong drop 1,22%, SENSEX India merah 0,95%, TOPIX turun 0,67%, FTSE Malaysia KLCI melemah 0,29%, SETI Thailand merah 0,25%, dan Strait Times Singapore terdepresiasi 0,24%.
Bank Indonesia Tahan Suku Bunga Acuan
Bank Indonesia (BI) mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode April. Satu yang ditunggu pengumuman suku bunga acuan BI Rate.
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 21–22 April 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,5%.
Keputusan ini konsisten dengan upaya meningkatkan efektivitas strategi moneter dalam memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi perekonomian global akibat perang di Timur Tengah.
Hasil ini sesuai dengan ekspektasi pasar. Konsensus yang dihimpun Bloomberg menghasilkan median proyeksi BI Rate tetap 4,75%.
Di antara yang memperkirakan BI Rate bertahan di 4,75% adalah Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai, penahanan BI Rate dilakukan sebagai upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan stabilitas inflasi.
Dengan kondisi ekonomi domestik dan perkembangan global saat ini, Bank Indonesia masih akan menahan Rate di level 4,75% dan belum berubah dalam waktu dekat.
Dia menjelaskan penahanan suku bunga juga merupakan respons untuk memastikan momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.
Mengenai arah atau posisi kebijakan moneter ke depan, lanjut Perry Warjiyo, Gubernur BI, ke depan, Bank Indonesia siap menempuh penguatan lebih lanjut kebijakan moneter yang diperlukan untuk tetap mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah dan menjaga inflasi 2026 dan 2027 dalam sasaran 2,5 plus minus 1%
Melansir riset Phintraco Sekuritas, seperti yang diperkirakan BI mempertahankan BI Rate pada level 4,75%, dengan Deposit Facility rate tetap di 3,75% dan lending facility rate tetap di 5,5%.
“Keputusan ini masih konsisten untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah yang cenderung melemah akibat ketidakpastian global yang masih tinggi. Sedang tingkat pertumbuhan kredit tercatat sebesar 9,49% YoY pada Maret 2026 dari 9,37% pada Februari 2026,” terang Phintraco, Rabu.
Secara teknikal, IHSG belum mampu menembus MA–5 di kisaran level 7.591 seiring dengan pergerakan histogram positif pada MACD yang terus mengecil serta indikator stochastic RSI yang berada pada overbought area.
“Sehingga kami memperkirakan IHSG berpotensi konsolidasi pada rentang level 7.500–7.600 pada perdagangan hari Kamis (23/4/2026),” sebut Phintraco dalam catatan terbarunya, Rabu.
(fad)






























