Bukan tanpa alasan keduanya berpotensi besar akan dampak tersebut. "Emiten yang paling rentan terhadap margin squeeze adalah yang memiliki struktur biaya tinggi, produktivitas rendah, serta ketergantungan pada pihak ketiga,seperti AALI dan DSNG," kata Abdul.
Emiten perkebunan seperti AALI dan DSNG memang bisa memanfaatkan biomassa sebagai sumber energi alternatif. Tapi, penggunaannya sebatas untuk menekan biaya energi di pabrik.
"Sifatnya hanya parsial, karena tidak bisa menggantikan kebutuhan solar untuk aktivitas logistik dan operasional lapangan, sehingga efektivitasnya lebih sebagai pengurang tekanan biaya, bukan solusi penuh."
Setali tiga uang, Analis Korea Investment and Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi memperkirakan, margin laba emiten perkebunan bisa tertekan 2% hingga 5% imbas kenaikan harga solar dan pupuk. "Dampaknya bisa mulai terlihat di kuartal II tahun ini," kata Wafi.
Di sisi lain, tingginya harga minyak dunia mendorong penggunaan biodiesel, yang mengerek permintaan harga CPO. Sentimen ini berujung pada naiknya harga komoditas tersebut.
Hal senada diungkapkan oleh Abdul. Mandatori penggunaan B50 menjadi katalis positif bagi sektor perkebunan.
Namun, sentimen tersebut bukan merupakan hal yang paling dominan. "Ruang re-rating terbatas, karena emiten perkebunan tertahan oleh stagnansi volume produksi dan sentimen negatif ESG," jelas Wafi.
Tekanan pada fundamental emiten perkebunan juga tercermin dari konsensus analis yang dihimpun Bloomberg.
Dalam konsensus tersebut, hanya ada dua analis yang merekomendasikan buy saham AALI. Meski tidak ada yang merekomendasikan sell, namun delapan analis merekomendasikan hold.
Target harga saham AALI dalam konsensus Bloomberg ada di Rp8.375/saham untuk 12 bulan ke depan.
Hasil konsensus untuk saham DSNG berbeda, ada sembilan analis yang merekomendasikan buy tanpa ada satu pun analis yang merekomendasikan sell maupun hold. Target harga 12 bulan ke depan ada di Rp1.975/saham.
(dhf)






























