Google telah berupaya mengurangi kegamangan internal terkait prioritas. Chief AI Koray Kavukcuoglu bekerja sama dengan tim engineering Google untuk menyatukan beragam tool pemrograman AI internal perusahaan dalam beberapa minggu mendatang di bawah Antigravity, sebuah platform yang diluncurkan tahun lalu, menurut seorang juru bicara.
DeepMind juga mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk pengembangan kode AI dengan membentuk tim baru, dipimpin oleh Sebastian Borgeaud, menurut seorang mantan karyawan Google. Tim baru sebelumnya dilaporkan oleh The Information. John Jumper, yang memenangkan Hadiah Nobel pada 2024 bersama CEO Google DeepMind Demis Hassabis, juga sedang bekerja pada pengembangan kode AI, menurut sumber yang mengetahui hal tersebut.
Google dianggap sedang naik daun di bidang AI pada akhir tahun lalu dengan peluncuran Gemini 3, sebuah model yang seolah mengungguli layanan pesaing di berbagai tolok ukur. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, Anthropic dan OpenAI memperoleh momentum bisnis dengan berfokus pada pasar yang menguntungkan. Model AI mereaka mampu menyederhanakan proses penulisan dan debugging kode guna mempercepat pengembangan perangkat lunak.
“Pemrograman adalah satu-satunya cara termudah untuk benar-benar menghasilkan uang,” kata Keith Zhai, salah satu pendiri startup TinyFish, yang membuat agen web.
Banyak developer di Silicon Valley beralih antara Claude Code dan Codex dari OpenAI untuk melihat program mana yang akan memberi mereka hasil terbaik, tetapi Google sering kali tidak masuk dalam pembicaraan, tambahnya.
Google masih memiliki banyak alasan untuk merasa optimis terhadap posisinya: perusahaan ini telah membuat kemajuan besar dalam hal kualitas model fondasinya, yang menjadi dasar alat-alat pemrograman, serta memiliki dana yang melimpah dan daya komputasi yang besar.
“Kami telah menyaksikan adopsi yang luar biasa terhadap berbagai tool pemrograman internal kami seperti Antigravity dan lainnya sejak diperkenalkan beberapa tahun terakhir, dan penggunaannya telah mempercepat pengembangan model serta alat-alat AI kami,” kata juru bicara Google dalam sebuah pernyataan.
Pada bagian lain, Google sangat antusias mempromosikan kecepatan perubahan budaya internalnya. Alphabet mengatakan pada Februari bahwa sekitar 50% kode baru di perusahaan ditulis oleh AI.
Namun, para insinyur di Silicon Valley dengan cepat mengadopsi pemrograman AI sehingga bahkan keterlambatan sesaat di pasar bisa berdampak signifikan.
Muncul keyakinan yang semakin kuat di industri bahwa pemrograman bukan hanya aplikasi awal yang menguntungkan dari AI, tetapi kunci untuk membangun perangkat software yang setara dengan kemampuan manusia, kata Raj Gajwani, mantan eksekutif Google yang kini menjabat sebagai chief business officer di startup OpenArt AI.
“Dari sudut pandang ilmu komputer, jika Anda unggul dalam pemrograman tahun ini, Anda akan mendapatkan data mentah yang dibutuhkan guna menjadi unggul dalam kemampuan model tahun mendatang,” katanya.
Penekanan Google pada teknologi miliknya sendiri juga telah mempersulit upaya untuk mengejar ketertinggalan. Sebagian besar karyawan dilarang menggunakan tool seperti Claude Code atau Codex dengan pertimbangan keamanan, tetapi karyawan Google dapat mengajukan permohonan pengecualian jika mereka dapat menunjukkan adanya alasan kuat secara bisnis, kata seorang mantan karyawan. Beberapa tim di DeepMind, termasuk yang mengerjakan model Gemini, aplikasi internal, dan model open source, menggunakan Claude Code, menurut tiga mantan karyawan. “Anda ingin orang-orang terbaik menggunakan alat terbaik, bahkan di dalam Google,” kata salah satu mantan karyawan tersebut.
Anthropic memotong akses OpenAI ke model-modelnya tahun lalu, seperti dilaporkan oleh majalah Wired. Google telah menginvestasikan miliaran dolar di Anthropic. Seorang juru bicara Anthropic tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Dalam beberapa tahun terakhir, DeepMind berusaha memperketat kendali atas cara terobosan AI-nya diintegrasikan ke dalam produk-produk Google. Tahun lalu, Google menunjuk Kavukcuoglu ke posisi baru petinggi kunci bidang AI, sebuah peran di mana ia bertugas mengintegrasikan AI generatif ke dalam produk-produk Google. Namun, kebingungan mengenai siapa yang memimpin pengembangan kode AI masih berlanjut. Bersama dengan DeepMind, Google Cloud, Google Core, Google Labs, dan Android semuanya mendorong pengembangan kode AI dengan cara yang berbeda-beda, kata salah satu sumber tersebut.
Google meluncurkan platform Antigravity tahun lalu setelah mengakuisisi talenta dan teknologi dari startup Windsurf dalam kesepakatan US$2,4 miliar. Platform ini bergabung dengan jajaran tool pemrograman AI Google yang sudah cukup padat, yang mencakup Gemini Code Assist, Gemini CLI, AI Studio, Firebase Studio, dan Jules. Kathy Korevec, yang memimpin pengembangan Jules, pindah dari Google ke OpenAI awal bulan ini, menurut profil LinkedIn-nya.
Korevec dalam unggahan di platform media sosial X, menulis bahwa Google memiliki kesempatan membangun tool pengembangan AI yang “terasa terintegrasi, intuitif, dan benar-benar menyenangkan untuk digunakan. Yang sering saya lihat justru perpecahan. Tool berdiri secara paralel. Interface tumpang tindih. Banyak tim menyelesaikan masalah serupa dengan cara yang sedikit berbeda… Itu masalah sistem.” Korevec belum segera menanggapi permintaan komentar.
One of my reflections from my time at Google:
— Kath Korevec (@simpsoka) April 14, 2026
I wish I had spent more time pushing on the end-to-end developer experience across the existing tools.
Google has some of the most powerful infrastructure and developer products in the world. The opportunity isn’t just building new…
Di dalam Googleplex, terdapat pertentangan filosofis antara peneliti AI yang ingin bergerak secepat mungkin dan insinyur senior tradisional yang memiliki standar ketat untuk kualitas kode, kata mantan karyawan.
Penggunaan AI dipertimbangkan dalam penilaian kinerja, menurut seorang mantan karyawan. Namun, insinyur yang mencoba menggunakan tool pemrograman AI internal sering menemui batasan kapasitas akibat persaingan dalam penggunaan daya komputasi, kata mantan karyawan tersebut.
Salah satu eksekutif yang mengawasi upaya untuk mempromosikan pemrograman AI di Google, Brian Saluzzo, baru-baru ini mengundurkan diri. Saluzzo tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Perusahaan-perusahaan masih mencari cara terbaik untuk mengintegrasikan AI ke dalam alur kerja mereka, dan dengan menawarkan beragam produk, Google memiliki lebih banyak peluang untuk melihat mana yang berhasil. Namun, pemain mapan seperti Google hanya memiliki keunggulan yang terbatas, kata Deepti Srivastava, mantan eksekutif Google yang kini menjadi pendiri dan CEO startup AI Snow Leopard.
“Pasar bergerak terlalu cepat bagi perusahaan besar untuk memikirkannya terlebih dahulu sebelum bertindak. Kecepatan adalah benteng pertahanan Anda yang satu-satunya,” kata Srivastava.
(bbn)































