Di sisi lain, dia juga mengingatkan pentingnya negara menjaga posisi netral di tengah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran agar tidak memicu hambatan dalam akses jalur khususnya di Selat Hormuz.
"Nah itu yang Indonesia harus bisa, misalkan kita kan netral, kita enggak pro ke Amerika, maupun ke Iran gitu kan. Cuma kita ingin kalau kita [bisa] lewat. Itu yang harus bisa dibantu oleh pemerintah, untuk menegosiasi," ujar Moshe.
Tahan Investasi
Sejalan dengan keadaan kahar yang terjadi di Selat Hormuz, Moshe mengungkapkan hal ini juga akan membuat ruang gerak pelaku usaha sangat terbatas.
Penyebabnya, kondisi tersebut membuat pelaku industri migas cenderung menahan ekspansi dan investasi, terutama pada proyek berisiko tinggi.
Di samping ketidakpastian, kata Moshe juga berdampak pada sektor hilir, seperti petrokimia dan kilang, yang mulai terdampak gangguan pasokan.
"Nah ini juga menjadi tantangan besar, jadi tantangan besar [pelaku industri migas] menahan diri juga. Dari sisi produksi juga jadi terdampak, dan mau enggak mau, mereka menyatakan force majeure [keadaan kahar]. Itu sudah beberapa minggu yang lalu. Jadi dari perusahaan-perusahaan migas, tidak banyak yang bisa dilakukan," tuturnya.
Dihubungi secara terpisah, perwakilan Kementerian Luar Negeri menyatakan terus memantau secara cermat perkembangan situasi di kawasan, termasuk Selat Hormuz, melalui koordinasi KBRI Teheran dan otoritas terkait.
Juru Bicara Kemlu Vahd Nabyl Achmad Mulachela turut menenkankan terdapat berbagai aspek teknis maupun mekanisme operasional yang masih perlu diperhatikan di lapangan.
"Kemlu melalui KBRI Tehran bersama PT Pertamina International Shipping juga terus berkoordinasi untuk mendukung kelancaran pelintasan kapal Indonesia. [Sebab] terdapat sejumlah aspek teknis dan mekanisme operasional di lapangan yang masih perlu diperhatikan," kata Vahd kepada Bloomberg Technoz, Minggu (19/4/2026) siang.
Sebelumnya, Pjs. Corporate Secretary Pertamina International Shipping Vega mengungkapkan kedua kapal PIS —yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro — saat ini masih berada di Teluk Persia dan belum dapat melintasi Selat Hormuz.
Sejalan keadaan tersebut, dia mengatakan PIS terus melakukan monitor secara saksama perkembangan situasi yang disebutnya sangat dinamis di Selat Hormuz.
"Kami terus melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait, termasuk Kementerian dan otoritas berwenang, sambil tetap menyiapkan perencanaan pelayaran (passage plan) yang aman," ujarnya dalam keterangan pers, Minggu (19/4/2026).
Prioritas utama perusahaan, lanjutnya, adalah menjaga keselamatan seluruh awak kapal, keamanan kapal, serta muatannya.
Dua kapal milik Pertamina telah tertahan di Selat Hormuz sejak awal Maret 2026. Dua kapal tanker perseroan yang belum dapat melewati Selat Hormuz yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro.
Kapal Gamsunoro melayani kargo milik konsumen pihak ketiga atau third party. Sementara itu, Pertamina Pride sedang dalam misi mengangkut pasokan minyak mentah atau light crude oil untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Sebagaimana diketahui, Iran mengabarkan kepada kapal-kapal di Selat Hormuz bahwa jalur minyak dan gas vital tersebut kembali ditutup untuk lalu lintas maritim.
Pemilik kapal tanker melaporkan adanya tembakan di jalur air tersebut kurang dari 24 jam setelah menteri luar negeri negara itu menyatakan jalur air tersebut dibuka.
Siaran radio tersebut, yang didengar oleh dua pemilik kapal di daerah tersebut, terjadi sekitar waktu kantor berita milik negara Nour melaporkan bahwa selat tersebut telah kembali ke "manajemen dan kontrol ketat oleh angkatan bersenjata" karena blokade terpisah yang diberlakukan AS terhadap pelayaran Iran.
Terjadi kekacauan di jalur air pada Sabtu, dengan satu kapal tanker super mengeluarkan siaran radio bahwa mereka sedang diserang tembakan, kata pemiliknya, yang meminta agar identitas mereka dirahasiakan karena situasi keamanan.
Salah satu sumber mengatakan sebuah kapal tanker super membatalkan rencana transit yang diharapkan. Beberapa kapal kargo mencoba transit pada pagi harinya, sementara yang lain berbalik arah atau berhenti.
Pada Jumat, padahal, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa Selat Hormuz "sepenuhnya terbuka" untuk pelayaran komersial selama gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Hizbullah di Lebanon.
(prc/wdh)






























