Apa yang terjadi di Timur Tengah terus menjadi sentimen kurang positif bagi pasar saham Indonesia. Setelah sempat damai, pertentangan Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali sengit.
Sebelumnya, Selat Hormuz sempat kembali dibuka untuk pelayaran komersial. Salah satu kapal yang bisa melintasi selat tersebut adalah milik Pertamina International Shipping (PIS).
Akan tetapi, ternyata suasana perdamaian itu hanya bertahan sementara. Teheran kembali menegaskan Selat Hormuz ditutup gegara Israel masih melancarkan serangan ke Lebanon.
“Dengan pelanggaran kepercayaan dan propaganda yang sudah terjadi berulang kali, Selat Hormuz diblokade kembali,” tegas Mehdi Tabatabaei, Juru Bicara Kepresidenan Iran, mengutip Bloomberg News.
Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Iran mengeluarkan peringatan bagi kapal–kapal agar tidak angkat jangkar dari Teluk Persia dan Laut Oman. Mendekati Selat Hormuz dipandang sebagai aksi “bekerja sama dengan musuh, dan kapal yang melanggar akan menjadi target”.
Perkembangan ini membuat harga minyak mentah kembali melambung tinggi. Pada pukul 12:55 WIB, harga minyak jenis brent melesat 5,68% ke US$95,33/barel.
“Dari sisi teknikal, IHSG menunjukkan kecenderungan melemah dengan histogram MACD yang bergerak mendatar serta Stochastic RSI yang berada di area overbought,” sebut analisis Phintraco Sekuritas.
Dengan kondisi tersebut, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak dalam rentang 7.600–7.700 pada sisa perdagangan hari ini.
(fad/aji)




























