Kenaikan harga minyak, yang meski masih di bawah US$100 per barel namun tetap berada di atas angka asumsi yang disematkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), berpotensi menyebabkan fiskal kembali terjepit.
Kondisi tersebut juga dapat memperburuk persepsi risiko global terhadap pasar Indonesia, serta menekan neraca perdagangan energi akibat inflasi impor.
Dari pasar obligasi, kenaikan imbal hasil pada tenor pendek dan menengah menandakan adanya aksi jual. Imbal hasil tenor 1 tahun menguat 4 basis poin (bps) ke 5,6%, disusul tenor 3 tahun menguat 3,4 bps menjadi 6,06%, tenor 4 tahun dan 5 tahun masing-masing naik 0,7 bps dan 1,2 bps ke 6,29% dan 6,32%.
Arah rupiah akan serba terbatas. Dalam jangka pendek pergerakan rupiah di pasar spot diperkirakan masih akan defensif dengan bias melemah di rentang Rp17.100/US$ hingga Rp17.250/US$. Sebab, di tengah ketidakpastian yang masih tinggi ini, permintaah terhadap aset safe haven seperti dolar AS akan tetap menguat.
(dsp/aji)



























