Logo Bloomberg Technoz

Harga Pertamax Ditahan: Cegah Pertalite Jebol, tetapi Bebani APBN

Azura Yumna Ramadani Purnama
20 May 2026 11:10

SPBU Pertamina./Bloomberg-Dimas Ardian
SPBU Pertamina./Bloomberg-Dimas Ardian

Bloomberg Technoz, Jakarta – Ekonom memprediksi keputusan pemerintah menahan harga Pertamax senilai Rp12.300/liter memang bakal mencegah terjadinya migrasi konsumsi ke bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi Pertalite.

Kendati demikian, pada akhirnya kebijakan tersebut diprediksi membebani keuangan negara, sebab pemerintah turut membayarkan dana kompensasi energi kepada PT Pertamina (Persero) gegara menahan harga Pertamax sejak April 2026.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memprediksi dua produk hilir migas tersebut—Pertamax dan Pertalite — bakal membebani keuangan negara sekitar Rp200 triliun—Rp215 triliun hingga akhir tahun, jika harga minyak dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada di kiasaran level saat ini.


Josua memprediksi kebijakan tersebut bakal memberikan beban ganda pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 dan keuangan Pertamina. Terlebih, jika belanja kompensasi dibayar cepat dan rutin, maka APBN menanggung langsung beban belanja yang besar.

Sebaliknya, jika pembayaran kompensasi ditunda, beban akan berpindah ke arus kas Pertamina dalam bentuk piutang kompensasi, yang pada akhirnya tetap menjadi kewajiban pemerintah.

Petugas mengisi BBM jenis Pertamax di SPBU Pertamina Rest Area Tol Tangerang-Jakarta KM 14, Senin (1/4/2024). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)