Analis Soroti Posisi Defisit Fiskal RI Usai Peringatan S&P
Nyoman Ary Wahyudi
16 April 2026 18:40

Bloomberg Technoz, Jakarta - Sebagian analis menyoroti posisi defisit fiskal Indonesia selepas lembaga pemeringkat S&P Global Ratings mewanti-wanti risiko beban subsidi energi di tengah eskalasi konflik Timur Tengah.
Mengutip laporan terbaru S&P yang terbit Selasa (14/4/2026), lembaga pemeringkat global itu menilai peringkat utang Indonesia paling rentan di Asia Tenggara apabila konflik Timur Tengah berlangsung lebih lama.
Alasannya, lonjakan harga energi berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan imbas kenaikan impor minyak mentah, sekaligus menekan ruang fiskal akibat membengkaknya subsidi.
“Risiko penurunan peringkat kredit akan meningkat apabila defisit naik melampui 3%,” kata Co-Founder of Alphagate Capital & Former Chief Indonesia Strategist of J.P. Morgan Henry Wibowo saat dihubungi, Kamis (16/4/2026).
Kendati demikian, Henry meyakini peringkat kredit Indonesia akan tetap dipertahankan pada level saat ini, selama defisit fiskal dijaga di bawah ambang batas 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).






























