Menurut OPEC+, memperbaiki kilang dan infrastruktur energi yang rusak bukan hal cepat atau murah. Selain itu, gangguan seperti serangan atau terganggunya jalur pengiriman minyak semakin membuat pasokan tidak stabil dan harga makin mudah bergejolak.
Negara-negara produsen utama seperti Arab Saudi dan Rusia sepakat menambah target produksi sekitar 206 barel per hari pada Mei mendatang. Namun, karena ekspor minyak dari kawasan Teluk masih terganggu akibat perang, tambahan produksi ini kemungkinan belum benar-benar bisa terealisasi.
Para analis menilai, masalah utamanya bukan pada kuota produksi atau kebijakan OPEC+, melainkan terganggunya Selat Hormuz. Selama jalur ini belum pulih dan masih tertutup untuk akses distribusi minyak, pasokan minyak global akan tetap terganggu.
Dari pasar domestik, Indonesia telah melakukan beberapa skenario untuk menghindari krisis energi akibat pasokan minyak terbatas. Kebijakan bekerja dari rumah (Work From Home/WFH) serta pembatasan pembelian bahan bakar minyak (BBM) bagi kendaraan hingga 50 liter per hari dianggap relevan untuk kondisi saat ini.
Hari ini, pemerintah diagendakan kembali mengumumkan kebijakan terkait efisiensi energi. Pada Senin (6/4/2026) pukul 13:30 WIB, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dikabarkan akan melakukan konferensi pers tentang kebijakan transportasi dan bahan bakar menyusul tingginya harga minyak mentah.
Nasib Rupiah
Bagi rupiah, lonjakan harga minyak yang masih berlangsung lama berpotensi memperbesar tekanan. Kenaikan harga energi akan meningkatkan kebutuhan impor dan memperlebar defisit transaksi berjalan.
Dalam jangka pendek, rupiah berisiko tetap berada dalam tren melemah, terutama saat ini harga minyak masih bertahan di atas US$100 per barel, dengan selisih cukup jauh dari angka asumsi dalam APBN 2026.
Selain itu, kenaikan harga minyak, kelangkaan bahan baku, dan gangguan logistik lainnya berpotensi mendorong terjadinya inflasi di tengah melemahnya permintaah domestik.
Seperti harga plastik yang dikabarkan telah melonjak sebesar 50%. Sebagai andalan kemasan bagi sebagian besar pedagang dan produsen makanan serta minuman, kenaikan harga plastik dapat memicu kenaikan harga makanan dan minuman dan berpengaruh pada inflasi.
Terganggunya rantai pasok global menyebabkan risiko cost-push atau inflasi berbasis kenaikan biaya. Sementara inflasi inti justru semakin melemah menjadi 2,52%.
Apabila tekanan inflasi meningkat secara signifikan, ruang Bank Indonesia sebagai otoritas moneter untuk mempertahankan suku bunga rendah akan semakin terbatas. Hal ini dapat menekan pertumbuhan ekonomi domestik, terutama jika daya beli masyarakat ikut tergerus.
Analisa Teknikal
Secara teknikal nilai tukar rupiah berpotensi lanjut melemah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini. Dengan target pelemahan menuju Rp17.050/US$ sampai dengan Rp17.100/US$. Level selanjutnya pelemahan berharap tertahan di ke Rp17.200/US$ dengan tertembusnya support kuat dari posisi sebelumnya.
Adapun dalam tren jangka menengah, atau dalam sepekan perdagangan, rupiah mengonfirmasi trend bearish, apabila tertembus trendline channel kuatnya lagi, maka berpotensi membentuk All Time Low baru yang tercermin dari time frame daily.
Apabila rupiah memberikan tanda-tanda menguat nantinya, resistance terdekat dapat menuju Rp16.980/US$, sementara range gerak rupiah dalam resistance di antara Rp16.940 sampai dengan Rp16.900/US$.
(riset/aji)





























