Logo Bloomberg Technoz

Konflik Timteng: Harga Plastik Melangit, Semua Lini Menjerit

Sultan Ibnu Affan
06 April 2026 05:19

Calon pembeli melihat produk berbahan plastik di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (1/4/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Calon pembeli melihat produk berbahan plastik di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (1/4/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah menyeret kekacauan harga tak cuma soal minyak dunia, tapi pada rantai industri petrokimia dan plastik. Perang Iran vs AS-Isral pada akhirnya menyentuh sektor paling dekat dengan masyarakat: makanan dan minuman.

Pelaku industri hulu petrokimia hingga hilir plastik di dalam negeri mulai merasakan tekanan berlapis.

"(harga) plastik rata-rata naik Rp5 ribu. Dari Rp10.000 ke Rp15.000. Untuk ukuran jumbo Rp25.000 ke Rp50.000, naik Rp25.000, dari seminggu sebelum lebaran," keluh penjual di toko plastik Anak Rantau, Pejaten, kepada Bloomberg Technoz, tengah pekan lalu.


"Styrofoam dari Rp35.000 ke Rp43.000, naik lagi menjadi Rp55.000. Gelas-gelas gini (gelas plastik) dari Rp17.000 ke Rp23.000," kata dia melengkapi laporan kenaikan harga bahan plastik.

Calon pembeli melihat produk berbahan plastik di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (1/4/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Alarm kenaikan harga plastik sebelumnya telah diprediksi Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas). Sekjen Inaplas, Fajar Budiono mengatakan pelaku industri dalam negeri mulai menghadapi tekanan serius dari sisi pasokan bahan baku.