Logo Bloomberg Technoz

Dari sisi domestik, pembukaan kembali pasar setelah libur panjang memang memicu technical rebound. Sepertinya pelaku pasar yang sebelumnya menahan posisi mulai melakukan rebalancing, dan mendorong penguatan rupiah meski terbatas. 

Meski begitu, sejatinya rupiah masih dibayangi tekanan struktural, di antaranya defisit transaksi berjalan yang rentan melebar saat harga energi melonjak, hingga persepsi risiko yang tercermin dari penurunan outlook kredit oleh lembaga pemeringkat global. 

Berbeda dengan rupiah, pergerakan di pasar pasar surat utang berbicara sebaliknya. Aksi jual masih deras terjadi yang ditandai dengan kenaikan imbal hasil (yield) pada hampir semua tenor, terutama tenor-tenor pendek. 

Pada perdagangan Rabu (25/3/2026) siang 11.50 WIB, yield SUN tenor 1Y naik 21,4 basis poin (bps) menjadi 6,14%. Ini merupakan yield tertinggi sejak Juni 2025.

Tenor pendek lainnya seperti 3Y dan 4Y juga mengalami kenaikan masing-masing 14,2 bps dan 13,1 bps ke level 6,36% dan 6,6%. Begitu juga dengan tenor 5Y naik 11,4 bps ke 6,67%. Tekanan serupa terjadi pada tenor menengah. Yield 6Y naik 7,8 bps ke 6,89%, sementara 8Y naik 5,6 bps ke 6,95%.

Di tenor panjang, yield 9Y naik 6,5 bps ke 7,01% dan 15Y naik 5,4 bps ke 7,03%. Tenor acuan 10Y juga ikut naik 7,9 bps ke 6,94%. Sementara, tenor 20Y dan 30Y masing-masing naik 3,3 bps dan 2,3 bps menjadi 6,93%. Begitu juga dengan tenor 40Y mengalami kenaikan yield 2,7 bps ke 6,84%. 

Tekanan jual di pasar SUN ini akan membuat posisi asing dalam surat utang domestik makin tergerus. 

Pada Senin (16/3/2026), kepemilikan asing dalam SUN RI tercatat telah menyusut sebesar 10,05% menjadi Rp857.990 triliun dari posisi Agustus tahun lalu Rp953.850 triliun, dan menandai posisi terendahnya sejak September 2024. 

(dsp/aji)

No more pages