Sebelumnya, Bahlil menegaskan bakal segera membangun tangki penyimpanan minyak mentah untuk memperbesar cadangan energi Indonesia.
Rencananya, kata Bahlil, tangki penyimpan minyak mentah tersebut bakal digarap oleh swasta dengan sumber dana dari pembiayaan campuran antara dalam negeri dan juga luar negeri.
“Ya investasinya sudah ada, investornya sudah ada. Udah siap. Investasinya bisa dari di-blending antara dalam negeri dan dari luar, tetapi bukan dari AS [Amerika Serikat],” kata Bahlil kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Rabu (4/3/2026) malam.
Bahlil menyatakan tangki penyimpanan minyak mentah tambahan sangat dibutuhkan Indonesia agar kilang-kilang domestik mendapat kepastian pasokan dalam mengolah produk olahan kilang seperti bahan bakar minyak (BBM).
Dia mengklaim telah melaporkan rencana percepatan pembangunan tangki penyimpanan minyak mentah tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto dan pada akhirnya diarahkan untuk segera membangun.
Adapun, rencana pembangunan tangki minyak mentah tersebut dilakukan untuk mempertebal umur cadangan minyak Indonesia. Terlebih, saat ini jalur perdagangan migas global di Selat Hormuz sedang ditutup.
Sekadar catatan, pada awal tahun lalu Bahlil menyatakan pemerintah akan membangun fasilitas penyimpanan atau storage minyak di Pulau Nipa. Kala itu, pemerintah tengah menyusun peraturan menteri (permen) tersebut.
Pulau Nipa sendiri berada di sebelah barat laut dari pelabuhan Sekupang di Pulau Batam.
Bahlil menjelaskan alasan pemerintah membangun fasilitas penyimpanan untuk Cadangan Penyangga Energi (CPE) tersebut agar kapasitas penyimpanan dapat bertambah hingga 30 hari dari kemampuan saat ini hanya 21 hari.
“Insyallah doakan investasinya cukup gede.Kita akan rencana membangun storage di sana [Pulau Nipa],” ujarnya.
(azr/ros)






























