"Digitalisasi sistem pembayaran yang meluas, ditopang oleh infrastruktur yang stabil, dan struktur industri yang sehat turut mendukung pertumbuhan ekonomi."
Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2026 berada di kisaran 4,9%–5,7% dan meningkat pada 2027, dengan inflasi tetap dalam target.
Ketahanan eksternal juga dinilai kuat, tercermin dari neraca pembayaran Indonesia yang sehat dan cadangan devisa sebesar US$154,6 miliar pada akhir Januari 2026, setara 6,3 bulan impor.
BI menegaskan akan terus memperkuat bauran kebijakan dan koordinasi bersama pemerintah serta Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) guna menjaga stabilitas dan kepercayaan pasar di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Sebelumnya, Fitch Ratings melaporkan revisi prospek utang Indonesia mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan erosi konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan Indonesia, di tengah meningkatnya sentralisasi otoritas pembuatan kebijakan.
"Hal ini dapat melemahkan prospek fiskal jangka menengah, melemahkan sentimen investor, dan memberi tekanan pada cadangan eksternal," demikian tertulis dalam laporan Fitch Ratings.
Penegasan peringkat mencerminkan rekam jejak Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi makro, pertumbuhan jangka menengah yang menguntungkan, rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) yang moderat, dan cadangan eksternal yang moderat.
Kekuatan peringkat ini dibatasi oleh penerimaan pendapatan yang lemah, biaya pembayaran utang yang tinggi, dan fitur struktural yang tertinggal seperti indikator tata kelola dibandingkan dengan negara-negara dengan peringkat 'BBB'.
(lav)
























