Logo Bloomberg Technoz

Subsidi Energi 2026 Rawan Jebol Rp150 T Imbas Perang Timur Tengah

Azura Yumna Ramadani Purnama
03 March 2026 11:10

Setetes BBM jatuh dari nosel bahan bakar di SPBU Royal Dutch Shell Plc./Bloomberg-Andrey Rudakov
Setetes BBM jatuh dari nosel bahan bakar di SPBU Royal Dutch Shell Plc./Bloomberg-Andrey Rudakov

Bloomberg Technoz, Jakarta – Sejumlah ekonom memprediksi subsidi dan kompensasi energi yang dipatok dalam APBN 2026 senilai Rp381,3 triliun bakal melebar hingga Rp150 triliun gegara konflik di Timur Tengah yang menyebabkan kenaikkan harga minyak mentah dunia.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede meramal setiap kenaikan US$1/barel pada asumsi Indonesian Crude Price (ICP) yang ditetapkan dalam APBN setara dengan tambahan belanja sekitar Rp10 triliun dan tambahan penerimaan sejumlah Rp3 triliun.

Adapun, dalam APBN 2026 asumsi harga ICP ditetapkan senilai US$70/barel.


Josua menyatakan setiap kenaikkan ICP sebesar US$15 dolar di atas asumsi, maka kebutuhan belanja subsidi bakal naik hingga Rp150 triliun dalam setahun. Itu pun dengan catatan, harga komoditas energi ditahan pemerintah dan tidak mengalami kenaikan harga.

“Kenaikan rata-rata ICP sekitar US$15 di atas asumsi kisaran rendah US$70/barel berpotensi menambah kebutuhan belanja subsidi dan kompensasi kira-kira Rp150 triliun dalam setahun, sehingga total kebutuhan program bisa mendekati Rp469 triliun bila harga domestik ditahan penuh dan tekanan bertahan lama,” kata Josua ketika dihubungi, Selasa (3/3/2026).

Proyeksi ICP 2026./dok. ESDM