Di sisi lain, Meidy mengatakan perusahaan nikel yang mendapat persetujuan RKAB 2026 hingga kini baru PT Vale Indonesia Tbk. (INCO), sedangkan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) atau Antam justru belum mendapat persetujuan RKAB.
“Baru Vale, Antam saja belum ya, teman-temannya Antam sendiri belum, baru bauksit dan emas, tetapi dijanjikan oleh Pak Dirjen Minerba, Maret sudah mulai akan disetujui pengajuan RKAB-nya. April sudah bisa berproduksi dan diberi kesempatan untuk revisi pada Juli,” jelas dia.
Sebelumnya, Ditjen Minerba Kementerian ESDM mengumumkan telah menerbitkan RKAB nikel periode 2026 pada Selasa (10/2/2026).
Menurut Dirjen Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno, kuota produksi bijih nikel yang disetujui berada di rentang 260 juta ton sampai 270 juta ton.
Kuota itu merosot lebar jika dibandingkan dengan target produksi pada RKAB tahun sebelumnya sebesar 379 juta ton.
“[RKAB] nikel sudah kita umumkan hari ini, [target produksinya] 260—270 juta ton, in between range-nya itu,” kata Tri saat ditemui di Gedung Ditjen Minerba, Selasa (10/2/2026).
(mfd/wdh)































