Logo Bloomberg Technoz

Outlook Nikel 2026: Harga di US$17.000 Efek RKAB & Isu Smelter RI

Azura Yumna Ramadani Purnama
16 July 2026 11:20

Bijih tembaga-nikel bergerak di sepanjang sabuk konveyor di pabrik konsentrator./Bloomberg-Andrey Rudakov
Bijih tembaga-nikel bergerak di sepanjang sabuk konveyor di pabrik konsentrator./Bloomberg-Andrey Rudakov

Bloomberg Technoz, Jakarta – BMI, lengan riset dari Fitch Solutions Company, merevisi naik proyeksi harga logam nikel 2026 menjadi US$17.000/ton dari sebelumnya US$16.600/ton, akibat pemangkasan kuota produksi dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) Indonesia hingga gangguan pasokan bahan baku smelter.

Dalam risetnya, BMI mencatat harga logam nikel rata-rata sepanjang Januari hingga 7 Juli 2026 mencapai US$17.862/ton.

Kenaikan tersebut didorong oleh ekspektasi pasar bahwa pengurangan kuota bijih nikel Indonesia akan memperketat pasokan bijih dan meningkatkan harga bahan baku bagi fasilitas pemurnian dan pengolahan nikel.

Pergerakan harga nikel pada semester I-2026 akibat kebijakan produksi Indonesia./dok. BMI

Pada saat yang sama, BMI mencatat kekhawatiran terhadap produksi smelter hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL) di Indonesia meningkat, akibat terbatasnya pasokan sulfur sehingga makin memperkuat sentimen kenaikan harga nikel.

BMI menjelaskan, harga nikel mulai menguat sejak kuartal I-2026 setelah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memangkas kuota produksi bijih menjadi 260—270 juta ton, turun dari 379 juta ton yang disetujui pada 2025.