Logo Bloomberg Technoz

RKAB Molor: Smelter Nikel HPAL Lebih Rawan Terdampak dari RKEF

Pramesti Regita Cindy
13 January 2026 13:30

Simbol kimia untuk nikel sulfat (NiSO) diproyeksikan ke tangki selama pembukaan pabrik daur ulang baterai Mercedes-Benz Group AG./Bloomberg-Alex Kraus
Simbol kimia untuk nikel sulfat (NiSO) diproyeksikan ke tangki selama pembukaan pabrik daur ulang baterai Mercedes-Benz Group AG./Bloomberg-Alex Kraus

Bloomberg Technoz, Jakarta – Keterlambatan penerbitan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 dinilai membawa risiko lebih besar bagi smelter nikel hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL) dibandingkan dengan smelter pirometalurgi berteknologi rotary kiln electric furnace (RKEF).

Dewan Penasihat Pertambangan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Djoko Widajatno mengatakan smelter HPAL menjadi yang paling rentan, bahkan ketika keterlambatan RKAB masih tergolong moderat.

Penyebabnya, model bisnis pabrik HPAL lebih padat modal dan sangat bergantung pada kesinambungan pasokan bijih, serta terikat pada rantai pasok baterai.


Sementara itu, smelter RKEF dinilai relatif lebih elastis karena produknya—seperti nickel pig iron (NPI) — masih memiliki ruang substitusi di pasar.

Pun demikian, Djoko menegaskan bahwa smelter RKEF tetap berisiko jatuh di bawah ambang kelayakan investasi jika ketidakpastian RKAB nikel berlarut.