Lantas, bagaimana nasib rupiah hari ini?
Analisis Teknikal
Secara teknikal nilai rupiah berpotensi kembali melemah pada perdagangan hari ini. Dengan target pelemahan menuju Rp16.840/US$ sampai dengan Rp16.850/US$. Level selanjutnya pelemahan berharap tertahan di ke Rp16.870/US$ dengan tertembusnya support kuat dari posisi sebelumnya.
Adapun dalam tren jangka menengah, atau dalam sepekan perdagangan, rupiah terkonfirmasi membentuk trend bearish, apabila tertembus trendline channel kuatnya lagi, maka berpotensi membentuk All Time Low baru yang tercermin dari time frame daily.
Apabila rupiah memberikan tanda-tanda menguat nantinya, resistance terdekat dapat menuju Rp16.780/US$, sementara range gerak rupiah dalam resistance di antara Rp16.740 sampai dengan Rp16.700/US$.
Tekanan Pemberat
Laju penguatan rupiah masih tertahan dalam perdagangan hari ini lantaran beberapa faktor pemberat yang datang dari sisi eksternal dan internal. Dari sisi internal, tekanan fiskal semakin memperberat sentimen pasar. Rincian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 menunjukkan defisit yang mendekati batas aman 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), memicu kekhawatiran terhadap kebutuhan pembiayaan pemerintah di tengah kondisi likuiditas global yang mengetat.
Defisit yang tinggi juga dapat mengurangi daya tarik instrumen keuangan Indonesia bagi investor asing dan memperbesar premi risiko Indonesia. Melansir data Bloomberg, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) mencatatkan kenaikan, sebagai indikasi adanya tekanan jual di pasar obligasi domestik. Agaknya pasar sudah merespons risiko yang mulai meningkat.
Di luar tekanan domestik, volatilitas global yang semakin intens jadi faktor yang tak bisa diabaikan. Ketidakpastian geopolitik tercermin dari eskalasi konflik di Venezuela pasca-intervensi militer AS dan ketidakstabilan di Iran seputar protes dan potensi disrupsi produksi minyak.
Ketegangan demi ketegangan yang terus terjadi di panggung internasional tak hanya mendorong indeks dolar AS menguat, tapi juga mengerek naiknya harga komoditas safe haven seperti emas.
Meski konflik di Venezuela tak punya dampak besar terhadap perdagangan Indonesia, tapi tetap memicu risiko melalui pasar keuangan global yang saling terhubung dan dipengaruhi oleh persepsi. Saat ini, investor global masih menghindari eksposur pada aset negara berkembang, apalagi negara yang ekonominya secara fundamental masih belum menjanjikan kepastian.
(riset/aji)





























