Dia menilai keyakinan masyarakat terhadap pemerintah meningkat karena kondisi ekonomi mulai membaik, sehingga daya beli turut membaik.
Menariknya, Bendahara Negara bahkan mengaku bahwa gaya komunikasinya selama ini hanya merupakan bentuk perpanjangan tangan dari Presiden Prabowo Subianto, bahkan dalam versi lebih halus.
"Jadi sepertinya saya cowboy, tapi yang saya lakukan adalah membalikkan kepercayaan masyarakat ke pemerintah. Itu juga atas perintah Bapak Presiden. Saya nggak berani gerak sendiri. Jangan bilang saya cowboy, saya ini cuma perpanjangan tangan dari Bapak Presiden. Kira-kira begitu, dengan versi yang lebih halus malah," ungkap Purbaya.
Dia mengaku telah mengantongi izin Kepala Negara untuk memastikan belanja negara digunakan dengan baik secara tepat waktu. Hal ini dilakukan agar pertumbuhan ekonomi bisa tercapai sesuai target pemerintah.
"Saya tidak mencampuri kementerian mereka, tapi memastikan penyerapan anggarannya tepat. Karena uang itu ada biayanya untuk saya," tutur dia.
Sebelumnya, Eks Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi mengkritik gaya komunikasi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Hal ini merujuk pada sejumlah pernyataan, komentar, hingga kebijakan Purbaya yang kerap menyinggung instansi pemerintah lainnya sejak 8 September 2025. Terutama soal anggaran yang belum direalisasikan dengan optimal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Menurut dia, sebagai bagian dari Kabinet Merah Putih, kritik Purbaya seharusnya disampaikan kepada para pejabat terkait dalam ruang tertutup. Dia menilai, kritik yang disampaikan di ruang terbuka secara terus menerus akan menciptakan kesan bahwa pemerintah terlihat lemah, tidak solid dan gampang untuk dipecah-belah.
“Kalau kita bicara dalam konteks pemerintah, sesama anggota kabinet tidak bisa kalau menurut saya baku tikam terus-menerus di depan umum. Itu akan melemahkan pemerintah,” ujar Hasan Nasbi melalui tayangan di akun YouTube pribadi, dikutip Senin (27/10/2025).
Dia memberikan gambaran fenomena menteri dan gubernur yang saling melontarkan kritik di depan umum hanya akan dilihat sebagai hiburan dalam jangka pendek. Namun, dalam jangka panjang, masyarakat akan melihat fenomena tersebut sebagai bentuk tidak solidnya pemerintahan. Padahal, konsolidasi kekuasaan merupakan hal yang penting.
“Kita pernah ada kayak gitu, akhirnya tidak solid dan berantakan. Dulu saya dukung kayak gitu tetapi lama-lama merasa pemerintah tidak bisa jalan nanti. Apalagi kalau jadi musuh bersama di dalam pemerintahan, itu perlu diwaspadai.”
Beda Perlakuan
Di sisi lain, Hasan Nasbi menyoroti pernyataan Purbaya yang kerap mendapatkan sambutan positif. Menurut dia, bila gaya komunikasi itu diterapkan oleh pejabat lain, belum tentu akan mendapatkan respons yang sama.
“Bahkan sekarang ada yang bilang bahwa hanya empat [kendaraan] RI 1 [Presiden], ambulan, pemadam kebakaran sama mobilnya Purbaya yang kalau ngiung-ngiung [pakai strobo] di jalan boleh dikasih jalan,” ujar dia.
“Makanya saya bilang kadang-kadang tidak ada teori komunikasi yang betul-betul baku. Kalau misalnya itu disampaikan oleh orang tertentu, orang jadi merasa gak apa apa.”
Dalam berbagai kesempatan, Purbaya memang terlihat saling silang pendapat dengan instansi pemerintah lainnya. Misalnya, soal dana mengendap di pemerintah daerah, salah satunya Jawa Barat. Perdebatan ini melibatkan Purbaya hingga Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Tak hanya itu, Purbaya dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia sempat saling melemparkan pernyataan terhadap satu sama lain dalam beberapa waktu ke belakang. Setidaknya ada dua topik pembahasan yang membuat keduanya saling sahut-menyahut, yakni kilang milik PT Pertamina (Persero) dan data gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG) 3 kg.























