“Kalau di Indonesia, alokasi pension fund ke bursa saham masih kurang dari 10%. Padahal, bila dana pensiun berperan aktif sebagai market maker, melakukan jual-beli seperti trader, itu akan meningkatkan kepercayaan investor,” kata Gioshia dalam media briefing di Jakarta, Kamis (4/9/2025).
Menurut Gioshia, pendalaman pasar modal menjadi penting mengingat pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 10 tahun terakhir banyak ditopang oleh utang. Ke depan, dia menilai pertumbuhan seharusnya bersumber dari pasar modal.
“Itu yang di Indonesia belum ada. Pasar modal sudah seharusnya lebih dalam saat ini,” tegasnya.
Selain dana pensiun, dia juga berharap lembaga pengelola kekayaan negara atau sovereign wealth fund (SWF) dapat ikut berperan sebagai market maker di bursa saham.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan investasi dana pensiun, termasuk BPJS Ketenagakerjaan, ke instrumen saham justru terus menurun dalam lima tahun terakhir.
Porsi saham dalam portofolio BPJS Ketenagakerjaan yang sempat mencapai 19,09% pada 2019, turun menjadi hanya 9,14% pada 2023.
Sebaliknya, penempatan dana lebih banyak bergeser ke instrumen lain seperti surat berharga negara (SBN), obligasi, sukuk, serta deposito. Tren serupa juga terlihat pada investasi reksa dana BPJS Ketenagakerjaan, yang terus menyusut sepanjang 2019–2023.
Dana pensiun lain juga mencatatkan hal serupa. Meskipun total aset dana pensiun bertumbuh sepanjang 2024, porsi investasi ke saham justru mengalami penyusutan.
(rtd/naw)






























