Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu mengatakan, produsen EV China seperti BYD dan Chery sedang mengalami over produksi karena konflik dagang internasional dengan USA. Kondisi ini juga dipengaruhi karena masih adanya proses negosiasi dengan negara G7 lainnya.
"Permintaan domestik mengalami perlambatan pertumbuhan akibat insentif langsung untuk pembelian EV pada akhir 2022, pasar domestik mulai jenuh. Terutama di kota-kota besar di tengah over kapasitas produksi karena investasi masif di pabrik baterai dan BEV," katanya pada Bloomberg Technoz, dikutip Jumat (25/7/2025).
Ia menyebut, hal ini tak sebanding dengan kapasitas pabrik mereka. Kemudian, perusahaan seperti SVOLT, CALB, Gotion, BYD dan CATL dengan inovasi yang begitu cepat, semakin mampu menekan biaya produksi baterai, komponen termahal pada BEV hingga 30-40%.
"Sehingga untuk menghindari penumpukan stok, mereka mengekspor mobil dengan harga murah ke pasar seperti Indonesia. Selain itu strategi lainnya juga adalah para produsen tersebut bersama-sama menetapkan harga agresif di Indonesia untuk mengalahkan merek Jepang dan Korea dan merebut pangsa pasar," tambahnya.
"Strategi ini mirip dengan langkah yang pernah diambil para produsen mobil Jepang di awal tahun 1970-an dan Korea di 1990-an. Di mana harga rendah, kualitas yang semakin baik dan promosi yang masif digunakan untuk membangun loyalitas merek," sebutnya.
Menurutnya, saat ini pasar otomotif belum sampai pada titik ekuilibrium [keseimbangan]. Fenomena harga murah ini lebih disebabkan surplus produksi China dan perang harga global.
Ditambah dengan faktor lainnya, seperti inovasi teknologi baterai dengan densitas yang semakin tinggi, drivetrain yang semakin efisien energi dan safety. Serta mileage yang semakin tinggi, serat biaya produksi yang semakin murah masih terus berkembang dengan sangat cepat.
Penurunan harga mobil, juga dipengaruhi karena pengambilan margin keuntungan lebih kecil per mobilnya dan diimbangi dengan volume yang sangat besar, sehingga total profit lebih tinggi.
"Untuk jangka menengah, HEV dan PHEV akan segera menggeser mobil ICE. Karena selama SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) belum diperluas akan menjadi hambatan mental calon pembelinya. Apalagi mereka yang hanya memiliki 1 mobil," pungkasnya.
(ell)



























