Pengamat: Penundaan Insentif EV Buat Konsumen Wait and See
Cahya Puteri Abdi Rabbi
27 May 2026 16:40

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rencana penundaan insentif kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) dinilai berpotensi menahan laju penjualan dan memicu perlambatan pasar otomotif. Pengamat otomotif, Yannes Martinus Pasaribu, menilai insentif fiskal masih menjadi faktor kunci dalam menjaga daya saing EV di Indonesia.
Menurut dia, karakter konsumen domestik yang sensitif terhadap harga membuat keberadaan insentif sangat menentukan. “Insentif fiskal berperan penting menurunkan total biaya kepemilikan (TCO) sehingga EV bisa tetap bersaing dengan kendaraan berbahan bakar konvensional,” kata Yannes lewat pesan singkat pada Rabu (27/5/2026).
Yannes menjelaskan, ketidakpastian kebijakan berpotensi mendorong konsumen menunda pembelian. Dampaknya, permintaan bisa melemah dalam waktu singkat. Selain itu, jika penundaan terjadi, konsumen diperkirakan cenderung wait and see atau beralih ke hybrid (HEV) yang lebih terjangkau, sehingga pasar berisiko lesu secara tiba-tiba.
Lebih lanjut, ia menilai tekanan di sisi permintaan akan berdampak langsung pada strategi pelaku industri. Agen pemegang merek (APM) berpotensi menahan ekspansi produksi serta menyesuaikan target tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Kondisi ini juga berisiko menekan keberlangsungan rantai pasok industri kecil dan menengah (IKM) yang terlibat dalam ekosistem kendaraan listrik, sekaligus memperlambat momentum elektrifikasi nasional.
“Kondisi ini berisiko fatal serta menjauhkan Indonesia dari target kedaulatan elektrifikasi nasional. Semoga tidak lebih dari satu bulan penundaannya,” ujar Yannes.


























