Ketika rupiah tertekan pagi ini, indeks saham domestik masih melanjutkan laju penguatan. IHSG dibuka menguat 0,6% dan selanjutnya bergerak di kisaran 7.166.
Adapun di pasar surat utang negara, pergerakan harga SUN cenderung variatif di tengah sentimen negatif pasar Treasury akibat upaya penggusuran Gubernur Federal Reserve Jerome Powell oleh Presiden AS Donald Trump.
Yield SUN tenor pendek terpantau naik pagi ini, di mana tenor 2Y naik sedikit 0,9 bps ke level 5,943%. Tapi tenor 5Y masih turun 0,2 bps dan yield 10Y stabil di 6,574%.
Gerak rupiah yang cenderung terbatas sudah diperkirakan sebelumnya menyusul hasil kesepakatan antara RI dengan AS.
Pasar kemungkinan masih akan mencerna dampak dari kesepakatan dagang AS dengan RI yang baru diumumkan dini hari tadi.
Besarnya nilai komitmen pembelian barang AS oleh Indonesia dinilai akan berdampak tak kecil terhadap surplus dagang yang dinikmati oleh Indonesia selama ini.
Presiden AS Donald Trump mengatakan, Indonesia terkena tarif sebesar 19%, lebih kecil dibanding tarif sebelumnya 32% dan menjadi yang terendah kedua di Asia Tenggara setelah Singapura yang hanya terkena 10%.
Sebagai ganti tarif yang lebih rendah, Indonesia membebaskan semua barang impor dari AS dengan tarif nol persen, ditambah komitmen pembelian produk energi AS hingga senilai US$15 miliar, produk pertanian senilai US$4,5 miliar, dan 50 Jet Boeing, banyak di antaranya adalah Boeing 777.
Analisis Bloomberg Economics menilai, penurunan tarif hingga 19% ketika nol persen dikenakan pada barang-barang AS yang masuk ke RI berpotensi membuat Indonesia kehilangan 25% nilai ekspornya ke AS dalam jangka menengah.
"Hal itu berisiko terhadap 0,3% Produk Domestik Bruto Indonesia," kata Analis Adam Farrar dan Ekonom Rana Sajedi dari Bloomberg Economics.
Nilai pembelian produk energi dan pertanian AS oleh Indonesia juga pesawat Boeing hingga 50 unit, memang belum dijelaskan kapan akan direalisasikan.
Namun, bila menghitung total pembelian yang mendekati defisit dagang AS dengan RI senilai US$18 miliar, mungkin akan berdampak tak kecil terhadap kinerja dagang Indonesia ke depan.
Lionel Priyadi, Fixed Income and Market Strategist Mega Capital, menilai kesepakatan dengan AS tersebut dipastikan akan berdampak pada penurunan surplus dagang RI. "Efeknya baru terasa setelah Juli," katanya.
Hari ini, pasar juga akan menantikan hasil RDG Bank Indonesia yang akan mengumumkan kebijakan BI rate. Konsensus pasar sampai pagi ini memperkirakan bunga acuan Indonesia akan kembali ditahan di level 5,50%.
Namun, sebagian ekonom memperkirakan ada peluang penurunan BI rate sebesar 25 bps ke level 5,25% hari ini. Dari 33 ekonom yang disurvei oleh Bloomberg, sebanyak 15 di antaranya memperkirakan BI rate turun hari ini.
Analisis dari Wells Fargo, salah satu bank terbesar di AS, memandang, tercapainya kesepakatan RI dengan AS akan memberikan kelegaan bagi rupiah dalam jangka pendek, juga bagi harga surat utang negara hari ini.
"Tarif yang lebih rendah ketimbang yang sebelumnya dikenakan bisa membantu sentimen dan menarik dana asing masuk ke Indonesia dalam jangka pendek," kata Brendan McKenna, Ahli Strategi Wells Fargo, dilansir dari Bloomberg News.
Rupiah diperkirakan bisa menguat ke kisaran Rp16.250/US$ atau lebih kuat dari itu. Namun, analis memperingatkan hal tersebut hanya reaksi spontan dan cenderung jangka pendek.
"Agar reli berkelanjutan bisa tercapai, kita perlu melihat lebih banyak kesepakatan perdagangan, perpanjangan tenggat waktu atau perkembangan lain yang meningkatkan sentimen lebih luas terhadap mata uang negara berkembang," kata McKenna.
(rui)





























