Salah satu pilot mengeluarkan panggilan darurat "mayday, mayday, mayday" hanya beberapa detik sebelum tabrakan. Sebelum pengatur lalu lintas udara mendengar jawaban mengenai apa yang salah, pesawat jatuh di luar batas bandara.
Pesawat mulai kehilangan ketinggian sebelum melintasi dinding perimeter bandara. Antara lepas landas dan kecelakaan, hanya sekitar 30 detik berlalu.
"Kami kini tahu—dengan tingkat keyakinan tertentu—kedua mesin kembali menyala karena sakelar bahan bakar tersebut diaktifkan," kata Jeff Guzzetti, mantan kepala investigasi kecelakaan di Badan Penerbangan Federal AS (FAA). "Kami belum tahu mengapa atau bagaimana sakelar-sakelar itu diaktifkan, dan ini akan menjadi bagian penting dari investigasi."
Laporan tersebut, meski masih awal, menguraikan gambaran mengerikan tentang pesawat jet yang nahas. Temuan ini belum menjawab siapa, jika ada, yang mematikan sakelar yang membuat pesawat kekurangan bahan bakar. Para investigator juga mengatakan sejauh ini mereka tidak menemukan bukti yang mengharuskan mereka mengambil tindakan terhadap pesawat Boeing atau mesin GE Aerospace.
"Pada tahap investigasi ini, tidak ada tindakan yang direkomendasikan untuk operator dan produsen B787-8 dan/atau GE GEnx-1B," bunyi laporan dari Badan Investigasi Kecelakaan Pesawat Terbang (AAIB).
Laporan ini menyoroti buletin keselamatan penerbangan FAA tahun 2018 yang menyebut sakelar kontrol bahan bakar pada pesawat Boeing, termasuk 737 dan 787, bisa secara tidak sengaja berpindah dari posisi "run" ke "cutoff" tanpa mekanisme pengunciannya aktif. Pesawat Air India tidak diperiksa untuk mengetahui kerusakan mekanisme penguncian tersebut karena memang tidak pernah diwajibkan.
AAIB menambahkan investigasi masih berlanjut, dan tim akan memeriksa bukti, catatan, dan informasi tambahan. Laporan lengkap untuk menentukan penyebab insiden tersebut akan memakan waktu berbulan-bulan untuk disusun.
Investigator juga sedang memeriksa latar belakang dan pengalaman para pilot—langkah biasa yang dilakukan dalam penyelidikan semacam ini. Menurut pernyataan Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil, pesawat tersebut dikomandoi oleh Kapten Sumeet Sabharwal dan Kopilot Clive Kunder, yang masing-masing memiliki 8.200 dan 1.100 jam terbang dengan Boeing 787.
Insinyur kedirgantaraan dan pilot pesawat tempur Bjorn Fehrm mengatakan tidak biasa bahwa kru membutuhkan waktu begitu lama untuk mengembalikan sakelar ke posisi "run."
"Aneh sekali," kata Fehrm dalam wawancara. "Saya tidak akan pernah menunggu 10 detik untuk mengaktifkannya lagi. Saya akan menyalakannya secepat mungkin."
Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) merujuk semua pertanyaan media kepada otoritas India. Perwakilan Air India belum memberikan komentarnya.
Laporan badan tersebut didasarkan pada pemeriksaan data yang diekstraksi dari perekam suara kokpit dan perekam data penerbangan digital (DVR), serta detail lain yang dikumpulkan dari TKP, yang merupakan kecelakaan penerbangan terburuk dalam lebih dari satu dekade.
Laporan ini menandai penjelasan resmi pertama atas bencana tersebut, yang telah menjerumuskan maskapai India tersebut ke dalam krisis tepat saat sedang berusaha bangkit di bawah kepemilikan baru, Tata Group.
Citra Boeing juga masih buruk pascabencana tersebut akibat kecelakaan pesawat lainnya.
Boeing 787 sedang menuju London dan kecelakaan itu menandai hilangnya pesawat jenis itu secara total untuk pertama kalinya.
Pesawat Boeing 787 tersebut sedang menuju London, dan kecelakaannya menandai kerugian pertama kali untuk jenis pesawat produksi AS tersebut.
(bbn)





























