Logo Bloomberg Technoz

Krisis Perbankan, Utang Amerika, dan Hantu Resesi

Ruisa Khoiriyah
09 May 2023 10:50

Papan Wall Street di pusat perekonomian New Yorks, Amerika Serikat (AS). (Dok Bloomberg)
Papan Wall Street di pusat perekonomian New Yorks, Amerika Serikat (AS). (Dok Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pekan-pekan ini akan memberi tekanan yang cukup besar bagi pelaku pasar, seiring masih panasnya polemik terkait batas pagu utang Amerika Serikat (debt ceiling) yang masih belum menemui titik temu. 

Kemelut seputar plafon utang Amerika, melengkapi serial drama yang berepisentrum di negara dengan ukuran ekonomi terbesar itu, sejak Maret lalu ketika krisis perbankan pertama kali pecah.

Amerika Serikat, negara dengan ukuran Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar US$25,46 triliun itu, menghadapi berbagai tantangan serius perekonomian yang mendebarkan. Dimulai dari lonjakan inflasi tertinggi setidaknya dalam empat dekade terakhir, yang akhirnya memaksa bank sentral AS, Federal Reserve, menerapkan kebijakan pengetatan moneter melalui kenaikan bunga acuan paling agresif sejak 1980-an. 

Dampak pengetatan moneter itu, inflasi AS yang sempat menyentuh dua digit kini berhasil diseret turun di kisaran 5% meski penurunannya terbilang lambat dengan indikasi pasar tenaga kerja yang masih sangat tangguh hingga detik ini. 

Namun, pengetatan moneter itu tentu saja meminta “korban”. Kejatuhan beberapa bank daerah, salah satunya adalah Silicon Valley Bank (SVB), sulit disangkal sebagai “korban” kebijakan bunga tinggi yang merontokkan harga obligasi. 

(Bloomberg)