“Harusnya [pemangkasan produksi tersebut] cukup berdampak terhadap, ya, kalau produksi sudah pastilah. Akan tetapi, [hal] yang paling penting kan adalah mencoba menyeimbangkan antara supply and demand yang ada di global ya. Itu yang paling penting,” tuturnya.
Pada kesempatan terpisah sebelumnya, Arif sempat menjelaskan penurunan produksi olahan nikel Indonesia dipengaruhi menurunnya output NPI di smelter pirometalurgi berbasis rotary kiln electric furnace (RKEF) akibat anjloknya utilitas dan pengalihan tanur untuk memproduksi nickel matte.
Kemudian, penutupan tanur pada semester II-2026 guna mengalihkan pasokan listrik untuk produksi aluminium juga berdampak pada penurunan produksi tersebut.
Sementara itu, bagi smelter hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL), kenaikan harga sulfur dan harga bijih limonit menekan operasional pada tahun ini. Kondisi tersebut, kata Arif, diperparah dengan kurangnya pasokan air akibat fenomena El Niño.
“FINI mengestimasi bahwa total produksi nikel olahan Indonesia pada 2026 diperkirakan mengalami penurunan sekitar 3,5% hingga 4% jika dibandingkan dengan produksi 2025 sebesar 2,5 juta ton Ni,” kata Arif kepada Bloomberg Technoz, Rabu (14/10/2026).
Lebih lanjut, Arif mencatat realisasi produksi nikel olahan hingga Agustus 2026 mencapai 1,7 juta mt Ni dari smelter RKEF dan sekitar 270.000 mt Ni dari smelter HPAL.
Akhir bulan lalu, Para petinggi sejumlah produsen nikel China dikabarkan bertemu pada Selasa (20/10/2026), guna membahas pengurangan produksi secara terkoordinasi di pabrik bahan baku baterai mereka di Indonesia.
Perusahaan-perusahaan tersebut—termasuk Tsingshan Holding Group Co, GEM Co, Lygend Resources & Technology Co, dan Zhejiang Huayou Cobalt Co—berencana untuk menetapkan skala pengurangan produksi yang diperlukan.
Rencana tersebut akan ditempuh sebab lemahnya harga logam telah menekan profitabilitas operasi smelter HPAL yang menghasilkan endapan hidroksida campuran atau mixed hydroxide precipitate (MHP) mereka. Pertemuan tersebut menyusul diskusi serupa pada Agustus yang tidak menghasilkan kesepakatan.
Menurut sumber Bloomberg News, perusahaan-perusahaan itu kemungkinan akan membahas pengurangan produksi berdasarkan tingkat operasional saat ini.
Di tengah riuh rencana tersebut, CEO BPI Danantara Rosan Perkasa Roeslani melakukan pertemuan dengan Chairman Tsingshan Holding Group Xiang Guangda di China.
Rosan menyatakan pertemuan tersebut membahas pengembangan lanjutan industri nikel dan baja nirkarat di Indonesia.
“Dengan basis industri Tsingshan di Morowali dan Weda Bay, pengembangan lebih lanjut berpotensi memperkuat kapasitas industri nasional sekaligus meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai pasok global,” kata Rosan dalam unggahan di Instagram resminya, Senin (26/10/2026).
Sekadar informasi, sejumlah smelter nikel pada tahun ini mengalami tekanan dari tingginya harga bahan baku berupa asam sulfat dan sulfur hingga terdampak kekeringan panjang efek El Niño.
Sebagai contoh, PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) mengamini kawasan basis nikel di Sulawesi Tengah itu tengah terdampak fenomena El Niño pada tahun ini, sehingga berpotensi menurunkan produksi dari smelter di sentra industri tersebut sekitar 30%—40%.
Kemudian, smelter nikel PT Bumi Mineral Sulawesi (BMS) milik Kalla Group di Bua, Luwu, Sulawesi Selatan dikabarkan mengalami kendala operasional akibat turunnya pasokan listrik imbas pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang kekurangan air.
(wdh)































