Kondisi tersebut terjadi di tengah tekanan pasar saham domestik sepanjang tahun berjalan. Berdasarkan data OJK per 30 Oktober 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di level 5.057,05 atau terkoreksi 41,52% secara year-to-date (YTD). Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) juga tercatat sebesar Rp8.862 triliun, turun 44,08% secara YTD.
Meski demikian, aktivitas penghimpunan dana di pasar modal secara keseluruhan masih berlangsung. OJK mencatat total nilai emisi penawaran umum sepanjang 2026 mencapai Rp202,04 triliun dengan 170 penawaran umum. Selain IPO saham, penghimpunan dana tersebut juga mencakup penawaran umum terbatas dan efek bersifat utang dan sukuk (EBUS).
Dalam paparannya, Agus juga menyebutkan masih terdapat pipeline penawaran umum sebanyak 25 kegiatan dengan nilai indikatif mencapai Rp27,92 triliun. Namun, angka tersebut merupakan pipeline penawaran umum secara keseluruhan, bukan khusus IPO saham.
Di sisi lain, OJK menilai penguatan pasar modal perlu terus dilakukan untuk menjaga kepercayaan investor dan mendukung kebutuhan pendanaan korporasi melalui pasar modal.
(dhf)






























