Menurut dia, ketidakpastian regulasi dapat mengancam usaha industri plastik hilir di tengah ketergantungan impor bahan baku. Namun pihaknya mengapresiasi pemerintah atas relaksasi bea masuk anti dumping yang telah diterapkan belum lama ini.
”Saya tidak tahu apakah karena sudah diberikan relaksasi bea masuk anti dumping maka yang 0% impor bahan baku itu hingga saat ini belum juga terealisasi, tapi paling tidak berikan kepastian untuk kami,” ujarnya.
Analis Sinarmas Sekuritas Yosua Zisokhi mengatakan, kenaikan harga minyak dan gangguan pasokan naphtha, bahan baku utama industri petrokimia, dapat merambat hingga ke harga resin yang digunakan produsen kemasan plastik.
“Pelemahan daya beli membuat perusahaan akan mengalami kesulitan untuk meneruskan kenaikan beban tersebut kepada konsumen akhir,” kata Yosua.
Emiten plastik kemasan rata-rata mencatat kenaikan COGS lebih dari 14% begitupun dengan utang jangka pendek terutama kepada bank yang juga akan berpengaruh pada beban keuangan di era suku bunga tinggi pasca kenaikan Fed Funds Rate awal bulan ini sebesar 25 basis poin ke level 3,75-4%.
“Ini akan berpotensi menekan volume penjualan yang berpengaruh pada kinerja keuangan. Selain itu, suku bunga the Fed yang meningkat dapat memicu suku bunga bank Indonesia meningkat pula, sehingga beban bunga emiten juga meningkat,” katanya.
Di saat yang sama, terjadinya oversupply di China menimbulkan tantangan baru bagi emiten plastik dalam negeri di tengah ketidakpastian kondisi global. Produsen China jauh lebih efisien dan mampu menekan biaya sehingga industri plastik dalam negeri berisiko kalah saing jika biaya masih tinggi.
“Produsen kita berpotensi tidak bisa menjual dengan harga yang kompetitif, bisa kalah saing dari produk China,” ujarnya.
Menurut Yosua, kombinasi harga bahan baku, nilai tukar, dan biaya pendanaan membuat 2026 menjadi tahun yang menantang bagi industri plastik. Perusahaan dengan neraca lebih sehat dan kemampuan lebih besar untuk meneruskan kenaikan biaya bahan baku kepada pelanggan cenderung memiliki daya tahan lebih baik.
"Tahun ini bisa dilihat sebagai stress test bagi perusahaan plastik. Bukan hanya revenue growth yang perlu diperhatikan investor, tetapi apakah perusahaan mampu menjaga gross margin ketika resin naik dan pada saat yang sama mengendalikan leverage dan finance cost," katanya
Yosua menambahkan, jika harga resin dan biaya logistik mulai normal pada 2027, emiten-emiten tersebut berpotensi mencatat margin recovery. “Perusahaan sudah melakukan repricing dan efisiensi pada 2026, sehingga ketika input cost turun, penurunan tersebut berpotensi langsung terlihat pada gross margin dan laba," tutup Yosua.
(red)






























