Rupiah Sentuh Rp18.000/US$
Tim Riset Bloomberg Technoz
29 September 2026 10:16

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah akhirnya menyentuh level psikologis Rp18.000/US$ di perdagangan pasar spot pada Selasa (29/9/2026) pukul 10:15 WIB, saat tekanan eksternal kian persisten bersamaan dengan meningkatnya kekhawatiran akan inflasi akibat kenaikan harga minyak mentah.
Harga minyak brent yang kembali bertahan di atas US$106/barel menjadi salah satu pemberat utama bagi rupiah. Kenaikan energi itu meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi domestik. Selain itu, tingginya harga minyak berpotensi memperbesar kebutuhan devisa untuk membiaya impor minyak dan produk turunannya.
Tekanan eksternal ini juga kian menguat setelah pelaku pasar meningkatkan ekspektasi terhadap kemungkinan adanya kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral AS Federal Reserve (The Fed), dan membuat yield US Treasury tenor 10 tahun naik ke 5,24%. Aset berbasis dolar AS menjadi makin menarik.
Pergerakan di pasar obligasi AS lantas merambat ke pasar obligasi domestik. Yield surat utang negara (SUN) tenor 5 tahun naik menjadi 7,06%, sementara tenor 10 tahun naik 4,2 bps menjadi 7,14%.
Persoalannya, tekanan terhadap rupiah kali ini tidak hanya berasal dari faktor eksternal. Dari dalam negeri, pasar menghadapi kombinasi ekspektasi inflasi yang meningkat, prospek neraca perdagangan yang semakin tipis, serta kekhawatiran terhadap kebutuhan pembiayaan fiskal ketika yield global berada pada level tinggi.




























