Beban Naik, Emiten Plastik Terjepit Ketidakpastian Regulasi
Redaksi
29 September 2026 09:03

Bloomberg Technoz, Jakarta - Emiten plastik hilir menghadapi tekanan berlapis di tengah kenaikan beban pokok penjualan dan hutang jangka pendek. Relaksasi bea masuk impor bahan baku yang rencananya ditetapkan pemerintah sebesar 0% hingga kini belum terealisasi dan akan berdampak pada tingginya beban perusahaan tahun ini.
Berdasarkan laporan keuangan semester I-2026, sejumlah emiten yang bergerak di sektor industri plastik hilir mencatatkan Cost of Goods Sales (COGS) dan liabilitas jangka pendek terutama hutang bank yang meningkat dibandingkan tahun lalu. Faktor tersebut dapat menggerus laba emiten dan kemampuannya membayar dividen untuk tahun buku 2026.
Sebagian emiten masih mencatat pertumbuhan laba pada pengungkapan laporan keuangan terakhirnya seperti PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID), PT Primadaya Plastisindo Tbk (PDPP) dan PT Argha Karya Prima Industry Tbk (AKPI) yang semula rugi menjadi untung, namun PT Asiaplast Industries Tbk (APLI) dan PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) masing-masing mencatat penurunan laba. Seluruh emiten tersebut mengalami kenaikan CoGS mulai dari 12% hingga 52% dan utang bank jangka pendek double digit.
Sekjen Asosiasi Industri Plastik Hilir Indonesia Henry Chevalier mengatakan, kenaikan COGS dalam laporan keuangan emiten mencerminkan masih tingginya biaya produksi meskipun harga bahan baku sudah mulai mereda pada September tahun ini.
”Kalau kenaikan COGS ini masih terus berlanjut maka dengan sendirinya dapat mengikis laba perusahaan, jadi kami masih menunggu realisasi PMK terkait bea masuk bahan baku 0% yang dapat membantu penurunan beban tersebut,” kata Henry dikutip, Selasa (22/9).






























