Logo Bloomberg Technoz

Sampah Dipilah, Kepedulian Tumbuh dari Keseharian

Andrean Kristianto
28 September 2026 21:14

Tim penyuluh memberikan edukasi pengelolaan sampah di Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta, Senin (28/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Tim penyuluh memberikan edukasi pengelolaan sampah di Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta, Senin (28/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Warga RW 6 Srengseng Sawah mulai memilah sampah dari rumah sebagai langkah menjaga lingkungan bersama. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Warga RW 6 Srengseng Sawah mulai memilah sampah dari rumah sebagai langkah menjaga lingkungan bersama. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Edukasi dilakukan langsung dari rumah ke rumah, mengajak warga mengenali dan memisahkan sampah berdasarkan jenisnya. (Bloomberg Technoz/Andrean K)

Edukasi dilakukan langsung dari rumah ke rumah, mengajak warga mengenali dan memisahkan sampah berdasarkan jenisnya. (Bloomberg Technoz/Andrean K)

Sampah yang telah dipilah kemudian dikumpulkan, sehingga plastik dan sisa makanan dapat dimanfaatkan kembali.. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Sampah yang telah dipilah kemudian dikumpulkan, sehingga plastik dan sisa makanan dapat dimanfaatkan kembali.. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Sampah anorganik bernilai disalurkan ke bank sampah, sementara residu nantinya dibawa menuju TPS 3R. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Sampah anorganik bernilai disalurkan ke bank sampah, sementara residu nantinya dibawa menuju TPS 3R. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Berbeda dengan anorganik, sampah organik diolah secara mandiri agar memiliki manfaat dan tidak terbuang. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Berbeda dengan anorganik, sampah organik diolah secara mandiri agar memiliki manfaat dan tidak terbuang. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Sisa makanan dikumpulkan terpisah untuk diolah, termasuk dimanfaatkan sebagai bahan pengolahan tanaman di rumah.(Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Sisa makanan dikumpulkan terpisah untuk diolah, termasuk dimanfaatkan sebagai bahan pengolahan tanaman di rumah.(Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Salah satu caranya, sisa makanan diolah menggunakan maggot yang membantu mengubah sampah organik menjadi manfaat. (Bloomberg Technoz/Andrean K)

Salah satu caranya, sisa makanan diolah menggunakan maggot yang membantu mengubah sampah organik menjadi manfaat. (Bloomberg Technoz/Andrean K)

Tim penyuluh memberikan edukasi pengelolaan sampah di Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta, Senin (28/9/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Warga RW 6 Srengseng Sawah mulai memilah sampah dari rumah sebagai langkah menjaga lingkungan bersama. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Edukasi dilakukan langsung dari rumah ke rumah, mengajak warga mengenali dan memisahkan sampah berdasarkan jenisnya. (Bloomberg Technoz/Andrean K)
Sampah yang telah dipilah kemudian dikumpulkan, sehingga plastik dan sisa makanan dapat dimanfaatkan kembali.. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Sampah anorganik bernilai disalurkan ke bank sampah, sementara residu nantinya dibawa menuju TPS 3R. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Berbeda dengan anorganik, sampah organik diolah secara mandiri agar memiliki manfaat dan tidak terbuang. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Sisa makanan dikumpulkan terpisah untuk diolah, termasuk dimanfaatkan sebagai bahan pengolahan tanaman di rumah.(Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Salah satu caranya, sisa makanan diolah menggunakan maggot yang membantu mengubah sampah organik menjadi manfaat. (Bloomberg Technoz/Andrean K)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Sampah yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari kini mulai dipilah sejak dari rumah oleh warga RW 6, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Langkah sederhana itu menjadi bagian dari upaya membangun pengelolaan sampah berbasis kawasan permukiman, dengan melibatkan warga secara langsung dalam proses pemilahan dan pengolahan.

Tim penyuluh yang terdiri atas pegawai Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU), serta warga sukarelawan mendatangi rumah-rumah untuk memberikan edukasi mengenai pemilahan sampah. Petugas juga memeriksa pemisahan sampah organik dan nonorganik, melakukan pendataan, serta memberikan stiker edukasi kepada warga yang telah menerapkan pemilahan.

Sejumlah warga mulai memisahkan sampah plastik dan sisa makanan untuk dikumpulkan dan dimanfaatkan kembali, termasuk sebagai bahan bagi tanaman di rumah. Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber sekaligus dirancang sebagai model pengelolaan sampah berbasis kawasan permukiman.

Pengelolaan sampah dilakukan berdasarkan jenisnya, dengan sampah organik diolah secara mandiri menggunakan komposter dan maggot, sedangkan sampah anorganik bernilai disalurkan ke bank sampah. Sampah organik, terutama sisa makanan, dikumpulkan dan diangkut secara terpisah menuju fasilitas pengolahan agar tidak kembali tercampur, sementara sampah residu nantinya disetorkan ke TPS 3R.

Data Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta tahun 2024 menunjukkan, sisa makanan mencapai 49,87 persen dari seluruh sampah yang dihasilkan Jakarta, disusul plastik sebesar 22,95 persen dan kertas atau karton sebesar 17,24 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa sampah banyak berasal dari aktivitas sehari-hari, mulai dari sisa makanan dan kulit buah hingga kemasan serta kardus belanja.

Pada 2029, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan memastikan seluruh sistem pengelolaan yang telah dibangun berjalan optimal dan berkelanjutan. Upaya tersebut diarahkan untuk mencapai target 100 persen sampah terkelola sekaligus mempertahankannya.

(dre)