Logo Bloomberg Technoz

Rupiah melemah 0,58%, disusul baht Thailand, dolar Taiwan, peso Filipina, rupee India, won Korea Selatan, yuan offshore, yen Jepang, yuan China, dan ringgit Malaysia. 

Depresiasi mata uang Asia dipimpin rupiah hari ini. (Bloomberg)

Pasar keuangan global terseret arus ekspektasi bahwa bank sentral AS akan kembali mengerek suku bunga acuan tahun ini lantaran tekanan inflasi. Dalam proyeksi terbaru, median proyeksi pejabat The Fed menunjukkan adanya kemungkinan satu kali kenaikan tambahan pada 2026, sementara tidak ada penurunan suku bunga tahun depan. 

Selain itu, pelemahan rupiah juga tersengat oleh sikap Bank Indonesia (BI) yang mengirim sinyal pro-pertumbuhan, alih-alih menegaskan bahwa stabilitas rupiah merupakan prioritas utama. BI mempertahankan BI Rate di 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) kemarin.

Dalam konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) kemarin, BI menegaskan kebijakan insentif (non-suku bunga) ditempuh untuk mendukung sasaran inflasi 2,5% ± 1%, serta mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. 

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea dalam keterangan tertulis mengatakan bahwa BI juga melakukan penguatan strategi operasi moneter pro-market untuk mengelola struktur suku bunga pasar uang.

"Sikap BI yang pro-pertumbuhan semakin diwujudkan melalui kebijakan likuiditas, dengan frekuensi lelang SRBI yang lebih rendah telah menurunkan posisi outstanding menjadi Rp1.037 triliun," ujar Jessica Tasijawa, Fixed Income Analyst Mirae Asset, dalam catatannya. 

Di saat yang sama, revisi Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) memberikan ruang yang lebih besar bagi perbankan untuk meningkatkan intermediasi sejalan dengan pertumbuhan kredit yang mencapai 13,65% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Agustus. 

Mirae Asset memperkirakan skenario bahwa BI akan memperpanjang periode penahanan suku bunga di 5,75%. Namun, Jessica memperkirakan ruang kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) tetap terbuka, jika rupiah terus melemah hingga menembus Rp18.000/US$, atau adanya arus keluar modal asing terus berlanjut, disertai meningkatnya kebutuhan intervensi BI, atau kenaikan harga pangan dan energi yang memberikan tekanan lebih besar terhadap inflasi. 

Sebagai catatan, sepanjang kuartal II-2026, rupiah telah melemah 4,96%,. Sedangkan sepanjang September (month-to-date/mtd), mata uang Tanah Air menempati posisi mata uang Asia terlemah kedua (-1,06%), setelah ringgit Malaysia (1,3%).

Jika ditarik ke belakang sepanjang tahun ini, maka rupiah menjadi mata uang dengan pelemahan paling tajam di Asia dengan depresiasi 6,81%. 

(dsp/aji)

No more pages