Logo Bloomberg Technoz

Ekonom: Rupiah Tertekan Penguatan Dolar AS & Harga Minyak Dunia

Redaksi
24 September 2026 13:00

Pengunjung menukarkan mata uang dolar AS dan rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026) (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pengunjung menukarkan mata uang dolar AS dan rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026) (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah kembali mencatatkan pelemahan pada pembukaan perdagangan Kamis (24/9/2026) dengan pelemahan 0,26% ke Rp17.846/US$. Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz menili bahwa hal ini datang dari penguatan dolar AS dan kembali naiknya harga minyak dunia.

“Ada tiga faktor utama. Pertama, dolar AS kembali menguat setelah data aktivitas ekonomi AS yang kuat mendorong yield US Treasury naik dan memperkuat ekspektasi bahwa The Fed masih dapat melanjutkan pengetatan,” kata Irman saat dihubungi Bloomberg Technoz, Kamis (24/9/2026).

Selain itu, Faiz juga menyoroti soal US Treasury 10 tahun bahkan kembali bergerak di atas 5%, sehingga daya tarik aset dolar meningkat.


Kedua, menurut Irman disebabkan oleh harga minyak yang kembali menjadi tekanan bagi rupiah dengan Brent kembali menembus US$103/barel setelah ketidakpastian geopolitik AS-Iran meningkat.

Bagi Indonesia sebagai net oil importer, harga minyak yang tinggi meningkatkan kebutuhan valas untuk impor energi dan berpotensi memperlebar current account deficit.