Rupiah Masih di Bawah Tekanan Global: Yield & Harga Minyak Naik
Tim Riset Bloomberg Technoz
22 September 2026 15:57

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah menutup perdagangan Selasa (22/9/2026) dengan pelemahan 0,19% ke posisi Rp17.872/US$, sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang berada di zona merah.
Harga minyak kembali menguat menjadi penahan laju penguatan mata uang kawasan hari ini. Kenaikan harga Brent 1,28% ke US$101,62/US$ terpicu oleh risiko pasokan di Timur Tengah yang masih tinggi, usai sebuah kapal tanker dilaporkan terkena serangan di Selat Hormuz.
Di saat yang sama, kabar bahwa produksi di ladang minyak terbesar Libya juga anjlok lebih dari separuh, setelah sebuah pipa terminal ekspor ditutup oleh kelompok bersenjata. Bloomberg News melaporkan bahwa ladang minyak Sharara saat ini hanya memproduksi 127 ribu barel per hari.
Risiko pasokan yang meningkat dan ketidakpastian geopolitik Di pasar mata uang, yen Jepang melemah bersama rupiah, yuan offshore, yuan China, dolar Singapura, baht Thailand, rupee India dan ringgit Malaysia.
Sebaliknya, penguatan terjadi pada won Korea Selatan yang ditopang oleh masuknya aliran modal asing di pasar saham. Begitu juga dolar Taiwan, menguat bersama peso Filipina, dan dolar Hong Kong.































