Logo Bloomberg Technoz

Namun, tekanan cukup beragam bagi pasar surat utang. Pasar obligasi yang mengalami aksi jual di antaranya Taiwan dengan obligasi tenor 10 tahun turun 4,4 bps ke 1,85%, disusul Thailand terpangkas 3,4 bps ke 2,18%. Begitu juga Singapura turun 2,1 bps ke 2,38%. Bahkan obligasi pemerintah Malaysia terpangkas paling dalam 9,2 bps ke 3,82%. 

Sebaliknya, obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun masih mencatat kinerja dengan kenaikan 0,6 bps ke 7,07%, bersama India naik 0,8 bps jadi 7,05%. 

Pelaku pasar akan mencermati arah kebijakan moneter Tanah Air oleh Bank Indonesia (BI) yang besok akan mengumumkan suku bunga acuannya. 

Berdasarkan konsensus yang dihimpun Bloomberg, pelaku pasar yang terdiri ekonom dan analis menghasilkan median estimasi 5,75% alias BI diperkirakan tidak mengerek suku bunga acuan pada pertemuan kali bulan ini. 

Sebagian ekonom yang memperkirakan BI menahan suku bunga berpendapat bahwa upaya BI dalam menjaga rupiah kini tak cuma bersandar pada instrumen suku bunga.

Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian berpendapat, sumber tekanan rupiah saat ini berasal dari global yield, minyak, dan tingginya risiko valuta asing. "Maka, instrumennya juga harus lebih spesifik terhadap sumber masalah tersebut," ujar Fakhrul.

Ia menilai di tengah tingginya yield global, harga minyak, dan ketidakpastian kebijakan moneter global, BI perlu semakin mengoptimalkan instrumen FX swap, DNDF, serta pengelolaan likuiditas dan arus modal asing. 

Ia juga menambahkan, BI dapat mempertimbangkan peningkatan sementara atas fasilitas hedging yang sudah ada, khusus untuk dana segar dengan karakteristik tertentu.

Fasilitas tersebut sebaiknya bersifat sementara (temporary), memiliki batas maksimal (capped), dan diberikan dengan mempertimbangkan jangka waktu pendanaan (duration-sensitive).

Artinya, sumber dana luar negeri yang lebih stabil dan berjangka panjang, seperti pinjaman jangka panjang perbankan, pendanaan dari perusahaan induk, serta investasi langsung (FDI) dan investasi portofolio jangka panjang, dapat diberikan insentif yang lebih besar dibandingkan dana asing yang masuk hanya untuk jangka pendek. 

Namun konsensus itu tak sepenuhnya bulat, ada juga ekonom yang memperkirakan BI akan mengerek suku bunga acuan ke 6%. Sebab, tekanan terhadap rupiah kian meningkat ditambah bank sentral global seperti Federal Reserve (The Fed), Bank of Japan (BoJ) serta Eropean Central Bank (ECB) juga menaikkan suku bunga sehingga memberikan tekanan pada kurs mata uang emerging market seperti Indonesia. 

David Sumual, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), memperkirakan adanya kenaikan BI Rate 25 bps menjadi 6% pada pertemuan September ini. 

Bahkan, David memperkirakan BI akan mengerek suku bunga acuan pada akhir tahun sebesar 25-50 bps seiring dengan ekspektasi kenaikan Fed Rate sekali lagi pada Desember. 

Sebagai catatan, BI kembali menggelar pertemuan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada hari ini dan besok 22-23 September. Ini merupakan pertemuan kedua di bawah kepemimpinan gubernur baru, Destry Damayanti. 

(dsp)

No more pages