Logo Bloomberg Technoz

Krisis Bahan Bakar, 2 Negara Ini Kerek Harga dan Cabut Subsidi

Redaksi
21 September 2026 19:40

Seorang pengemudi mengisi bahan bakar kendaraannya dengan bensin biasa di sebuah SPBU Chevron di Miami, Florida, AS./Bloomberg-Zak Bennett
Seorang pengemudi mengisi bahan bakar kendaraannya dengan bensin biasa di sebuah SPBU Chevron di Miami, Florida, AS./Bloomberg-Zak Bennett

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pasar bahan bakar global mengalami tekanan tahun ini akibat dampak gabungan dari konflik Amerika Serikat (AS)-Iran serta perang antara Rusia dan Ukraina, di mana Kyiv terus menggempur kilang-kilang minyak Moskwa.

Tak sedikit negara yang mengalami kelangkaan pasokan dan lonjakan bahan bakar. Negara-negara pun mulai bergerak untuk mengatasi dampak krisis bahan bakar tersebut, dengan mengerek harganya atau ada pula yang mencabut subsidi.

    Bangladesh baru saja menaikkan harga bahan bakar hingga 17,4%. Kementerian Energi mengatakan harga bahan bakar internasional telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak Maret 2026. Biaya pengiriman barang juga melonjak signifikan akibat ketidakstabilan kawasan Timur Tengah.


    Berdasarkan tarif baru tersebut, dilansir dari Reuters, Senin (21/9/2026), harga solar naik 17,4% menjadi 135 taka per liter dari sebelumnya 115 taka. Harga bensin oktan 95 naik menjadi 165 taka per liter dari 145 taka, bensin biasa naik menjadi 160 taka dari 140 taka, sedangkan harga minyak tanah naik menjadi 155 taka dari 135 taka.

    Sebelumnya, Bangladesh juga telah mengerek harga bahan bakar pada April dan Juni lalu guna mengimbangi lonjakan biaya impor akibat tingginya harga minyak global.