Kementerian Energi mengungkap perusahaan milik negara, Bangladesh Petroleum Corporation, mencatat kerugian sebesar 228,76 miliar taka antara Maret dan Agustus. Kenaikan harga terbaru ini diperkirakan bisa memangkas kerugian tahunan sekitar 100 miliar taka, sekaligus menghemat cadangan devisa dan menekan penyelundupan bahan bakar ke negara-negara tetangga yang memiliki harga jual lebih tinggi.
Menteri Energi Anindya Islam Amit mengatakan krisis yang sedang berlangsung di Timur Tengah semakin mendorong kenaikan harga bahan bakar internasional dan meningkatkan premi asuransi kelautan dan biaya pengangkutan.
"Krisis ini terjadi hampir setiap hari," katanya, seraya menambahkan bahwa situasi ini membuat impor bahan bakar semakin mahal bagi Bangladesh.
Dia mengungkap Bangladesh saat ini mengimpor sekitar 7 juta ton produk minyak bumi setiap tahun, di mana sekitar 4,5 juta ton di antaranya adalah solar.
Sementara itu, Bolivia mengakhiri subsidi solar demi mengatasi kelangkaan bahan bakar dalam negerinya yang kronis.
Presiden Bolivia Rodrigo Paz mengatakan harga bahan bakar dalam negeri kini akan mengikuti patokan global, akan turun jika harga internasional menurun.
"Mulai hari ini [Jumat], harga solar akan sama dengan biaya yang harus kita keluarkan saat membeli di luar negeri," kata Paz, mengutip Reuters.
Kebijakan ini menggantikan sistem penetapan harga ganda yang diperkenalkan pada Agustus yang membebankan 18 boliviano per liter kepada konsumen dalam jumlah besar, sambil tetap mempertahankan tarif subsidi sebesar 9,80 boliviano bagi yang lain.
Bolivia, menurut Paz, mengimpor sekitar 90% bahan bakar dieselnya, dan pemerintah menghabiskan sekitar US$55 juta setiap minggu untuk subsidi.
(ros)






























