Logo Bloomberg Technoz

Kemudian strategi akumulasi bertahap (buy on weakness) dinilai lebih tepat di saat seperti ini. Investor juga perlu menjaga diversifikasi portofolio di berbagai sektor dan tetap disiplin menerapkan titik stop loss apabila volatilitas pasar bergejolak hebat.

Di tengah tren suku bunga tinggi, sejumlah sektor dinilai lebih rentan menghadapi tekanan. Sebagai gambaran, sektor properti, konsumer dengan tingkat leverage tinggi berpotensi terbebani karena biaya pendanaan meningkat, hingga perbankan dan otomotif sepertinya akan mendapat sentimen negatif. 

Sebaliknya, sektor telekomunikasi dan energi termasuk komoditas dengan arus kas kuat relatif lebih siap menghadapi tren higher for longer, terlebih emiten eksportir berbasis dolar AS (batu bara, minyak sawit, nikel, dan tembaga) sepertinya bisa menjadi pilihan.

Senada dengan yang diutarakan Head of Research RHB Sekuritas Indonesia Andrey Wijaya yang menyebut kenaikan suku bunga acuan The Fed serta potensi pengetatan lanjutan membebani sentimen pasar negara berkembang, kala gangguan gangguan pasokan di Timur Tengah menjaga harga minyak tetap tinggi. Kondisi tersebut memperbesar risiko inflasi, hingga membatasi ruang BI untuk melonggarkan kebijakan, dan ini berbarengan dengan kembali terjadinya arus keluar dana dari reksa dana saham global.

“Beberapa pekan mendatang akan menguji kredibilitas kebijakan dan ketahanan pasar. Fokus utama kami adalah arah kebijakan The Fed, perkembangan pasokan minyak, pelaksanaan kebijakan fiskal Suahasil Nazara (Menteri Keuangan baru), dan arus dana investor asing,” sebut riset RHB Sekuritas.

Namun di samping gejolak pasar global, Andrey menilai fundamental Indonesia tetap terjaga. Pertumbuhan ekonomi masih di atas 5%, inflasi yang terkendali, dan permodalan perbankan yang kuat menjadi pondasi pasar saham Tanah Air. 

Namun, pertumbuhan ekonomi yang bertumpu pada pemerintah, pelemahan daya beli, tekanan di fiskal daerah, likuiditas perbankan yang tidak merata, serta menurunnya kepercayaan publik menunjukkan kerentanan yang tetap perlu dicermati. 

Dari riset tematik RHB Sekuritas berjudul Resilient Growth, Fragile Confidence, top picks atau saham-saham pilihan antara lain:

  • PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
  • PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).
  • PT Elnusa Tbk (ELSA).
  • PT Mayora Indah Tbk (MYOR).
  • PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).
  • PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA).
  • PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM).
  • PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP).
  • PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL).

Sebagai salah satu acuan, berikut rekomendasi saham dan juga target harga saham keseluruhan berdasarkan konsensus Bloomberg, mengutip data pada per 21 September 2026,

BBCA

Beli: 35 analis.
Tahan: 2 analis.
Jual: 0 analis.

Target harga 12 bulan ke depan: Rp8.154/saham.

BBRI

Beli: 24 analis.
Tahan: 8 analis.
Jual: 1 analis.

Target harga 12 bulan ke depan: Rp3.851/saham.

ELSA 

Beli: 12 analis
Tahan: 0 analis.
Jual: 0 analis.

Target harga 12 bulan ke depan: Rp1.103/saham.

MYOR

Beli: 22 analis.
Tahan: 1 analis.
Jual: 0 analis

Target harga 12 bulan ke depan: Rp2.483/saham.

MDKA

Beli: 23 analis
Tahan: 1 analis.
Jual: 0 analis.

Target harga 12 bulan ke depan: Rp3.961/saham.

MIKA

Beli: 23 analis.
Tahan: 1 analis.
Jual: 0 analis.

Target harga 12 bulan ke depan: Rp2.715/saham.

SMSM

Beli: 3 analis.
Tahan: 0 analis.
Jual: 0 analis.

Target harga 12 bulan ke depan: Rp2.250/saham.

LSIP

Beli: 11 analis.
Tahan: 0 analis.
Jual: 0 analis.

Target harga 12 bulan ke depan: Rp1.933/saham.

EXCL

Beli: 23 analis.
Tahan: 5 analis.
Jual: 5 analis.

Target harga 12 bulan ke depan: Rp3.267/saham.

Disclaimer: Artikel ini bukan ajakan dari Bloomberg Technoz untuk membeli saham tertentu. Semua risiko investasi yang dilakukan investor menjadi tanggungjawab secara mandiri. 

(fad/aji)

No more pages