Logo Bloomberg Technoz

Dolar Menguat, Yield US Treasury Naik, Seberapa Kuat Rupiah?

Tim Riset Bloomberg Technoz
21 September 2026 08:23

Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah spot berpotensi mempertahankan penguatannya secara terbatas pada perdagangan Senin (21/9/2026), pada rentang Rp17.700-17.800/US$. Pendorong utamanya adalah harga minyak mentah kembali terpangkas 0,36% ke US$103,5/barel pada 07:12 WIB. 

Penurunan harga minyak juga membawa sedikit sentimen positif bagi sebagian mata uang Asia di pasar yang sudah buka, meski relatif terbatas. Ringgit Malaysia menguat terbatas bersama yuan offshore, dolar Hong Kong, dan won Korea Selatan. Sedangkan, yen Jepang masih melanjutkan pelemahan pada perdagangan pagi ini. 

Pergerakan mata uang Asia pada Senin (21/9/2026). (Bloomberg)

Namun, indeks dolar Amerika Serikat (AS) terhadap enam mata uang utama bergerak menguat ke 100,26. Pergerakan dolar AS ini berpotensi membatasi ruang penguatan mata uang kawasan, termasuk rupiah. 


Belum lagi, imbal hasil US Treasury yang terkerek naik setelah bank sentral AS Federal Reserve mengambil sikap hawkish dengan menaikkan suku bunga 25 basis poin (bps) menjadi 3,75-4%. 

US Treasury tenor acuan 10 tahun kembali terdongkrak 6,6 bps ke 4,99% setelah pekan lalu sempat melandai. Hal ini merembet pada pasar obligasi di beberapa negara lainnya.