Logo Bloomberg Technoz

Kalender Ekonomi: BI Rate, dan Pertemuan AS-China Jadi Sorotan

Redaksi
21 September 2026 07:20

BI Rate Naik Diperkirakan Tetap di 5,75%. (Diolah dari Berbgai Sumber)
BI Rate Naik Diperkirakan Tetap di 5,75%. (Diolah dari Berbgai Sumber)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pekan ini, pasar keuangan global menghadapi agenda yang padat, dengan sebagian besar bank sentral diperkirakan mempertahankan suku bunga. Bank Nasional Swiss (SNB) kemungkinan menegaskan bahwa tekanan harga akibat kenaikan energi bersifat sementara, sementara Riksbank Swedia diperkirakan menaikkan proyeksi inflasi dan suku bunganya.

Di Meksiko, pertumbuhan ekonomi yang lemah membuka ruang pemangkasan suku bunga oleh Banxico. Akan tetapi, ekspektasi inflasi yang masih tinggi membatasi ruang pelonggaran itu. Sementara, di Nigeria dan Afrika Selatan menjadi beberapa bank sentral yang menjadi perhatian karena keputusan suku bunga mereka.

Dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia (BI) menjadi salah satu agenda utama pada Rabu, 23 September, bersamaan dengan rilis PMI manufaktur sejumlah negara dan data inflasi Afrika Selatan. Sedangkan Malaysia akan mengungkap cadangan devisa pada hari yang sama. 


Pasar akan mencermati keputusan BI di tengah dinamika nilai tukar rupiah, inflasi, serta kebijakan bank sentral global yang terfragmentasi. Sebagian mengambil sikap hawkish, sebagian lainnya masih memiliki ruang pelonggaran dengan mempertahankan posisi suku bunga acuan. 

Perhatian pasar terhadap Indonesia juga tertuju pada kebijakan teknis dari keputusan pemerintah membentuk bursa komoditas untuk mengendalikan harga. Kebijakan selanjutkan diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) disebut akan menentukan produk apa saja yang diperdagangkan, serta tahapan perdagangannya, lewat aturan tersendiri. Beberapa hal yang dipertimbangkan OJK di antaranya adalah kesiapan infrastruktur, stabilitas keuangan, dan integritas pasar.